Penggilingan Kecil Terdesak Pabrik Besar, Menteri Pertanian Ingatkan Bahaya Monopoli Beras
![]() |
| Menteri Pertanian, Amran Sulaiman |
JAKARTA – Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyoroti semakin sulitnya penggilingan padi kecil bersaing dengan pabrik berskala besar. Kondisi tersebut menurutnya tidak hanya mengancam kelangsungan usaha penggilingan kecil, tapi juga berpotensi memicu gelombang pengangguran besar-besaran.
“Sekarang ada framing seolah-olah pabrik kecil baru tutup hari ini. Padahal tutupnya sudah sejak 15–20 tahun lalu,” kata Amran dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Kamis (21/8/2025).
Data Kementan mencatat ada 161.401 unit penggilingan kecil di Indonesia. Jika beroperasi penuh, kapasitas produksi mereka bisa mencapai 116,2 juta ton beras per tahun. Namun realisasi produksi hanya sekitar 65 juta ton, jauh di bawah potensinya.
Amran menyebut penggilingan kecil makin terdesak oleh kehadiran pabrik menengah dan besar yang lebih efisien. “Pabrik besar bisa membeli gabah dengan harga lebih tinggi, lalu menjual berasnya sebagai premium. Padahal seringkali kualitasnya biasa saja,” ujarnya.
Kondisi ini, menurut Amran, berbahaya bagi jutaan pekerja yang menggantungkan hidup dari penggilingan kecil. “Kalau satu penggilingan kecil saja mempekerjakan 10 orang, artinya ada potensi 1 juta orang kehilangan pekerjaan jika usaha ini mati,” ungkapnya.
Selain persoalan persaingan, faktor alam juga memperburuk produksi beras. Saat musim hujan, petani hanya mampu memanen sekitar 35 persen dari total tanam. Hal ini membuat pasokan gabah ke penggilingan makin terbatas.
Amran menegaskan pemerintah akan merancang kebijakan untuk menyeimbangkan persaingan antara penggilingan kecil dan besar. “Kalau kita biarkan, maka yang besar akan menguasai pasar dan ketahanan pangan kita bisa terganggu,” tandasnya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tempo.co |
| Kategori | : | Voli, Ekonomi, DKI Jakarta |












