Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
20 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
21 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
20 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
20 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
19 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  PON

Salju Abadi Cartenz Terancam Hilang 2026, Menteri Hanif: Upaya Cegah Pemanasan Global Belum Cukup

Salju Abadi Cartenz Terancam Hilang 2026, Menteri Hanif: Upaya Cegah Pemanasan Global Belum Cukup
Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan es di Puncak Cartenz, Papua, diprediksi akan hilang pada 2026 akibat pemanasan global. (Istockphoto/gr8ph1cs)
Senin, 25 Agustus 2025 14:59 WIB

JAKARTA – Salju abadi di Puncak Cartenz, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, diprediksi habis pada 2026. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut mencairnya es di salah satu puncak tertinggi Indonesia itu sebagai bukti nyata dampak pemanasan global.

Dalam sambutannya di Forum Nasional Pekan Iklim Bali 2025, Senin (25/8/2025), Hanif menegaskan perubahan iklim berjalan lebih cepat dibandingkan upaya manusia menurunkan emisi gas rumah kaca.

“Es di puncak Cartenz sudah banyak mencair dan diproyeksikan oleh BMKG akan hilang pada 2026,” ujarnya secara virtual dari Denpasar.

Hanif mengingat pengalamannya meninjau langsung Cartenz pada 2023. Saat itu, tutupan es masih terlihat menutupi lebih dari sepertiga puncak. Kini, kondisi jauh berbeda.

“Kalau dulu masih cukup luas, sekarang es hanya tersisa di celah-celah batu,” jelasnya.

Menurutnya, fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa langkah mitigasi perubahan iklim belum membawa dampak signifikan. Ia menekankan pentingnya mempercepat penurunan emisi gas rumah kaca di level nasional maupun global.

Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan emisi karbon hingga 23 persen pada 2035. Selain itu, strategi FOLU Net Sink ditetapkan sebesar 140 Mt CO2e pada 2030 dan 304 Mt CO2e pada 2050.

Sebagai upaya tambahan, perdagangan karbon dikembangkan untuk mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Program ini juga ditujukan untuk menghadapi risiko perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, serta peningkatan suhu yang terus mengancam kehidupan.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:PON, Voli, Lingkungan
wwwwww