Senator Dailami: Makan Bergizi Gratis Jangan Jadi Makan Berisiko
![]() |
| Pelajar di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta keracunan usai konsumsi MBG. (Ist) |
Senin, 22 September 2025 22:39 WIB
Penulis: Azhari Nasution
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah sejak awal tahun ini sejatinya memiliki tujuan mulia untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang sehat, seimbang, dan terjangkau. Namun belakangan, maraknya kasus keracunan massal di berbagai daerah telah menimbulkan kegelisahan masyarakat, menggerus kepercayaan, sekaligus menodai semangat awal dari program tersebut.
Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang juga Wakil Ketua Komite III, Dailami Firdaus menegaskan, keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas utama.
Menurut Dailami, tidak ada alasan yang dapat membenarkan jika program yang dimaksudkan untuk mencerdaskan generasi bangsa justru berbalik menjadi ancaman kesehatan.
Senator dari Dapil DKI Jakarta ini menilai, kasus keracunan di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa hingga Sulawesi, menjadi tanda bahwa tata kelola MBG harus segera dievaluasi secara menyeluruh.
Dailami menekankan pentingnya standar keamanan pangan. Dalam penyelenggaraan MBG, keamanan pangan tidak boleh ditawar. Setiap dapur yang melayani ribuan porsi wajib menerapkan standar ketat, mulai dari penyimpanan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
"Makanan yang berada terlalu lama pada suhu tidak aman, kebersihan peralatan yang tidak terjaga, atau penggunaan bahan baku tidak layak konsumsi dapat memicu risiko besar bagi anak-anak," kata Dailami, melalui keterangan tertulis, Senin (22/9/2025).
Ia juga menyoroti tata kelola dapur dan distribusi makana karena banyak dapur baru yang belum siap mengolah makanan dalam skala besar. Memasak untuk sepuluh orang tentu berbeda dengan memasak untuk seribu hingga tiga ribu porsi. Untuk itu, operasional dapur baru sebaiknya dilakukan bertahap, dimulai dari melayani beberapa sekolah dan meningkat sesuai kapasitas yang sudah teruji.
"Sistem distribusi makanan ke sekolah-sekolah pun harus diperhatikan dengan cermat, terutama pada jarak jauh yang membutuhkan rantai dingin atau panas agar makanan tetap aman," tegasnya.
Selain itu, Dailami mendorong adanya audit dan transparansi. Ia menyebut, kasus-kasus keracunan yang berulang menunjukkan adanya celah besar dalam pengawasan. Setiap dapur perlu diperiksa kepatuhannya terhadap standar higienitas dan kualitas pangan, dengan hasil audit yang dipublikasikan secara terbuka agar masyarakat mengetahui sejauh mana keamanan pangan terjaga.
"Saya juga mengusulkan adanya dashboard insiden nasional yang secara berkala memuat laporan lokasi kasus, jumlah korban, serta hasil uji laboratorium. Transparansi semacam ini dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat," jelasnya.
Dailami juga mengingatkan perlunya perbaikan menu dan edukasi gizi. Pasalnya, makanan bergizi bukan hanya soal jumlah kalori, melainkan juga kualitas gizi dan kesesuaian dengan kebutuhan anak.
Menu yang sederhana namun sesuai kebutuhan masa kembang tubuh, seperti telur, sayuran segar, ikan, atau daging ayam yang diolah dengan baik, dinilai lebih aman dan bermanfaat daripada makanan kemasan atau olahan berlebihan.
"Edukasi gizi berkelanjutan di sekolah-sekolah pun perlu digencarkan dengan melibatkan guru dan orang tua, agar program MBG tidak hanya memberi makan tetapi juga membentuk kebiasaan baik jangka panjang," ungkapnya.
Dailami menjelaskan, sejumlah langkah perbaikan guna meningkatkan kualitas program MBG. Pertama, penegakan standar keamanan pangan dari hulu ke hilir dengan pengawasan ketat dan konsisten.
Kedua, audit menyeluruh terhadap pemasok dan dapur untuk memastikan kelayakan bahan baku serta proses produksi.
Ketiga, tahapan operasional dapur baru agar kapasitas massal benar-benar siap sebelum melayani banyak sekolah.
Keempat, transparansi insiden keracunan melalui laporan terbuka yang bisa diakses publik.
Kelima, perbaikan menu berbasis gizi seimbang dengan mengurangi makanan kemasan serta memanfaatkan bahan pangan lokal.
Keenam, pelatihan dan sertifikasi tenaga dapur agar higienitas serta kemampuan memasak skala besar terjamin.
Ia menambahkan, makan bergizi gratis jangan sampai berubah menjadi makan berisiko. Pemerintah perlu menjadikan setiap kasus keracunan sebagai alarm keras, bukan sekadar insiden biasa.
"Anak-anak kita berhak mendapat makanan yang aman, sehat, dan bergizi. Saya akan terus mendorong agar program ini diperbaiki secara menyeluruh dan dengan pengawasan yang ketat agar benar-benar menghadirkan manfaat bagi generasi Indonesia," pungkas Dailami. ***













