Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
19 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
2
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
20 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
19 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
20 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
5
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
19 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
6
Lewat Single "Cinta Baru", Briana Sukses Buka Perhelatan Jakarta Rocktober 2026
Hiburan
20 jam yang lalu
Lewat Single Cinta Baru, Briana Sukses Buka Perhelatan Jakarta Rocktober 2026
Home  /  Berita  /  PON

Janji Pertumbuhan 8 Persen Dinilai Ilusi, Ekonom Minta Pemerintah Realistis

Janji Pertumbuhan 8 Persen Dinilai Ilusi, Ekonom Minta Pemerintah Realistis
Minggu, 26 Oktober 2025 16:50 WIB
JAKARTA – Pernyataan ekonom Profesor Ferry Latuhihin mengguncang ruang publik setelah dirinya menilai pemerintah terlalu optimistis dan tidak realistis dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen. Ia menegaskan, klaim tersebut tidak didukung data riil dan justru menyesatkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dalam podcast Indonesia Economist Club di kanal YouTube Awalil Rizky bertajuk “Beranikah Purbaya?”, Ferry menyebut pemerintah harus berhenti menjual mimpi kepada publik. “Kita tidak bisa terus-menerus dibuai angka pertumbuhan 6, 7, atau 8 persen, sementara data dan indikator ekonomi justru menunjukkan pelemahan,” ujarnya, Minggu (26/10/2025).

Ferry menilai ruang fiskal pemerintah semakin sempit karena tingginya beban pembayaran utang. Menurutnya, jika 25 persen dari APBN dialokasikan hanya untuk membayar utang, maka peluang memberikan stimulus ekonomi hampir tidak ada. “Kalau APBN sudah tertekan, dari mana lagi pemerintah mau dorong pertumbuhan? Semua sektor butuh ruang gerak, bukan janji kosong,” katanya.

Ia juga menyoroti anjloknya daya beli masyarakat yang menjadi cerminan lemahnya konsumsi domestik. Ferry mengungkapkan, indeks kepercayaan konsumen pada September ini menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. “Daya beli turun, konsumsi lesu, tapi pemerintah masih bicara pertumbuhan tinggi. Kalau benar konsumsi naik 5,68 persen, tunjukkan datanya, jangan cuma narasi,” tegasnya.

Selain itu, sektor investasi juga belum menunjukkan sinyal pemulihan. Ferry mempertanyakan arah kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di tengah risiko perlambatan global. “Sebagai ekonom, kita bertanya, apa strategi konkret pemerintah untuk mengatasi tren penurunan ekonomi ini? Program yang ada sekarang tidak menjawab tantangan yang sesungguhnya,” jelasnya.

Ferry turut mengkritik rencana program makan bergizi gratis (MBG) yang dinilai belum memperhitungkan kemampuan fiskal negara. Ia menilai kebijakan semacam itu hanya akan membebani anggaran tanpa jaminan efektivitas. “Coba hitung realistisnya, apakah benar kita punya Rp328 triliun untuk memberi makan 82 juta anak sekolah? Kita sering lupa kalau anggaran itu terbatas dan ada prioritas lain,” paparnya.

Menurut Ferry, pemerintah seharusnya bersikap jujur dan terbuka soal kondisi ekonomi agar publik tidak kehilangan kepercayaan. Ia menilai transparansi jauh lebih penting dibanding narasi optimistis tanpa dasar kuat. “Yang dibutuhkan rakyat itu bukan janji pertumbuhan delapan persen, tapi kebijakan yang nyata untuk menguatkan ekonomi rumah tangga, membuka lapangan kerja, dan menjaga stabilitas harga,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:PON, Voli, Ekonomi
wwwwww