Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
11 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
10 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
6 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  PON

Ketegangan Memanas, Jet Bomber AS Kepung Langit Venezuela

Ketegangan Memanas, Jet Bomber AS Kepung Langit Venezuela
Ilustrasi. (foto: reuters/south korban defender miniatur)
Rabu, 29 Oktober 2025 10:34 WIB
JAKARTA – Langit Karibia kembali bergetar oleh raungan jet pembom strategis milik Amerika Serikat. Dua pesawat B-1B Lancer terdeteksi terbang di atas perairan lepas pantai Venezuela, Senin (27/10/2025), di tengah meningkatnya ketegangan politik dan militer antara Washington dan Caracas.

Data Flightradar24 menunjukkan dua pesawat pembom itu terbang sejajar di wilayah udara internasional Laut Karibia sebelum menghilang dari radar. Keduanya lepas landas dari pangkalan udara di North Dakota, AS bagian utara — ribuan kilometer dari Venezuela — menunjukkan operasi jarak jauh yang sudah terencana.

Langkah ini menjadi babak baru dalam operasi militer sepihak AS yang diklaim sebagai upaya memberantas jaringan narkoba di Amerika Latin. Namun, pemerintah Venezuela menuding operasi tersebut hanyalah dalih untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.

“Washington menggunakan narasi perang narkoba untuk menutupi niat politiknya. Mereka ingin menciptakan ketegangan dan membuka jalan bagi intervensi,” ujar Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, dalam konferensi pers di Caracas.

Pemerintahan Donald Trump menolak tudingan itu. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan operasi militer di Karibia adalah bagian dari “misi keamanan regional” untuk menekan peredaran narkotika. “Kami akan memburu dan menghancurkan jaringan penyelundupan yang mengancam keamanan Amerika,” katanya.

Namun hingga kini, Washington belum mempublikasikan bukti kuat bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran operasi itu benar-benar digunakan untuk menyelundupkan narkoba. AFP melaporkan, sejak awal September, setidaknya 10 kapal telah diserang oleh militer AS di Laut Karibia. Sembilan di antaranya merupakan kapal kargo kecil, sementara satu lainnya kapal semi-submersible. Total 43 orang dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.

Sementara itu, kehadiran bomber B-1B di langit Karibia bukan peristiwa tunggal. Sebelumnya, satu pesawat sejenis juga terpantau melakukan patroli serupa. Dalam minggu yang sama, beberapa jet pembom B-52 turut dikerahkan. Di waktu bersamaan, Pentagon menempatkan kapal induk USS Gerald R. Ford di wilayah tersebut dan mengirim 10 jet siluman F-35 ke Puerto Rico. Saat ini, tujuh kapal perang AS dikabarkan beroperasi aktif di perairan Karibia.

Menurut analis militer asal Kolombia, Rodrigo Perez, pengerahan B-1B adalah bentuk unjuk kekuatan (show of force) yang ditujukan untuk menekan pemerintahan Maduro. “AS tahu Venezuela berada dalam kondisi ekonomi dan politik yang rapuh. Dengan menampilkan kekuatan militer, mereka mengirim pesan: kami bisa menyerang kapan saja,” katanya kepada El Espectador.

B-1B sendiri merupakan jet pembom jarak jauh berkecepatan supersonik yang mampu membawa 34 ton senjata, termasuk rudal jelajah jarak jauh dan bom presisi. Keberadaannya di wilayah sensitif seperti Karibia biasanya menjadi sinyal tekanan strategis terhadap negara target.

Namun, tindakan AS menuai kritik keras dari sejumlah negara di kawasan Amerika Latin. Kuba dan Nikaragua menyebut langkah Washington sebagai “provokasi berbahaya” yang mengingatkan pada era perang dingin. “Ini bukan lagi perang melawan narkoba, ini upaya menakut-nakuti negara berdaulat,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Kuba.

Di dalam negeri, pemerintah Venezuela menegaskan telah meningkatkan kesiapsiagaan militer. Angkatan Udara Venezuela disebut menempatkan pesawat tempur SU-30 dan sistem pertahanan udara di wilayah pesisir utara. “Kami tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman asing,” tegas Menteri Pertahanan Vladimir Padrino.

Ketegangan antara AS dan Venezuela kembali menghidupkan bayangan lama tentang bagaimana Washington menggunakan kekuatan militer untuk menjaga pengaruhnya di Amerika Latin. Sejumlah pengamat menyebut, langkah Trump di Karibia ini mencerminkan pola lama gunboat diplomacy — politik tekanan bersenjata yang sudah digunakan sejak abad ke-20.

“Setiap kali AS merasa pengaruhnya di Amerika Selatan menurun, mereka akan mengerahkan kapal perang atau bomber ke wilayah itu. Sejarahnya berulang,” ujar pengamat geopolitik dari Universidad Central de Venezuela, Maria Gutierrez.

Menurutnya, Washington tengah berusaha menegaskan kembali dominasinya di wilayah yang kini mulai didekati oleh Rusia dan China melalui kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan Caracas. “Ini bukan perang narkoba, ini perang pengaruh,” tegasnya.

Sementara itu, Rusia mengecam tindakan AS dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap stabilitas regional. “Setiap operasi militer di sekitar Venezuela akan dianggap provokatif,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow.

Sejumlah analis memperingatkan, jika ketegangan ini terus meningkat, kawasan Karibia bisa menjadi medan konflik terbuka baru antara kekuatan besar dunia. “Venezuela bisa menjadi Ukraina kedua di belahan barat,” ujar Perez.

Kehadiran bomber B-1B di langit Karibia mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tapi dampak politik dan diplomatiknya bisa jauh lebih lama. Di tengah retorika perang dan saling tuduh, bayangan konfrontasi langsung antara Washington dan Caracas kini semakin nyata. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:PON, Voli, Basket
wwwwww