Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
22 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
23 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
22 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
22 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
11 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
6
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
22 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Home  /  Berita  /  Nasional

Jihan Fahira Bicara Tentang Program Sekolah Laboratorium Pancasila

Jihan Fahira Bicara Tentang Program Sekolah Laboratorium Pancasila
Jihan Fahira dan Eddy Wijaya. (Ist)
Jum'at, 31 Oktober 2025 19:31 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI0 Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat, Jihan Fahira menyatakan kebanggaannya ikut tergabung  dalam program Sekolah Laboratorium Pancasila (SLP).

Ia menilai program besutan Hamry Gusman Zakaria tersebut sangat baik untuk pendidikan anak sekolah yang sejak lama tidak lagi memperoleh mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

“Ini salah satu program yang saya bangga sekali, biarpun bukan saya pendirinya. Saya hanya diundang (bergabung), tapi dari hati saya benar-benar support karena kita di Indonesia kehilangan PMP, Pendidikan Moral Pancasila,” kata Jihan kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 29 Oktober 2025.

Aktris kelahiran Bogor, Jawa Barat, 6 Januari 1978 itu menjelaskan kehadiran SLP dapat menjadi asupan pelajaran tambahan baik bagi siswa maupun tenaga pengajar, khususnya mengenai moral Pancasila.

 “Makanya ada Sekolah Laboratorium Pancasila bukan hanya untuk siswa tetapi para guru juga. Karena banyak sekali pengajar itu yang tidak paham Pancasila. Pancasila ini kan semuanya ada, kita menjalankan setiap hari, berdoa, salat, itu bagian pelaksanaan Ketuhanan yang Maha Esa (sila pertama Pancasila)” katanya.

Jihan mengatakan, penghapusan mata pelajaran PMP di sekolah berakibat pada buruknya perilaku siswa, misalnya sikap murid kepada guru maupun orang tuanya.

“Saya sih merasa sekarang itu krisis moral. Untuk anak-anak sekarang itu beda sekali sama kita dulu. Coba kalau kita lihat di TV yang lagi viral, (sikap) murid kepada gurunya (tidak baik),” kata ibu 4 anak tersebut.

Ia berharap agar pemerintah memberikan dukungan bagi program SLP untuk pendidikan moral di sekolah.

“SLP ini memang belum bisa masuk sebagai kurikulum utama, baru masuk sebagai ekskul. Makanya saya berharap pemerintah pusat bisa sedikit-sedikit mensosialisasikan apa itu SLP,” ucap Jihan.

“Saya berharap tidak hanya pendidikan akademis yang mereka dapat, dan budi pekerti. Dan terbukti, lihat sekarang setiap hari berita pembully-an, anak sekolah merokok gurunya sampai takut, apa itu?” kata dia menambahkan.

SLP merupakan program yang digagas seorang tokoh yang dikenal sebagai motivator nasional, Hamry Gusman Zakaria. Program ini bertujuan untuk menggelar pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila, mulai SD, SMP, SMA/Sederajat.

Tidak hanya itu saja, Hamry yang juga dosen Lemhanas RI tersebut telah menguji programnya itu di beberapa sekolah, misalnya SMP Negeri 8 Johar Baru, Jakarta Pusat. ***

wwwwww