Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
19 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
12 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
11 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
19 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
5
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
12 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
6
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
12 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Home  /  Berita  /  Automotif

FAKTA Indonesia Desak Penerapan Label Tinggi Gula di MBDK Cegah Lonjakan Diabetes

FAKTA Indonesia Desak Penerapan Label Tinggi Gula di MBDK Cegah Lonjakan Diabetes
Unjuk rasa perlunya penerapan cukai dan label MBDK. (Ist)
Jum'at, 14 November 2025 15:46 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
‎JAKARTA- Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Ari Subagyo Wibowo menegaskan, dukungan terhadap rencana Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang akan mengkaji penerapan label peringatan "Tinggi Gula" pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Ari mengatakan, langkah ini dinilai mendesak mengingat tren konsumsi gula di Indonesia terus meningkat dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

‎
‎Ia menambahkan, FAKTA Indonesia bersama Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) sebelumnya melakukan survei terhadap 117 responden pasien gagal ginjal. Hasilnya, mayoritas pasien mengidap Diabetes Melitus Tipe 2 yang salah satunya dipicu konsumsi gula berlebih dari MBDK.
‎
‎Kemudian, berdasarkan Data International Diabetes Federation (IDF) 2024 memproyeksikan jumlah penderita diabetes di Indonesia bakal menembus 20,4 juta jiwa, menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia. Sementara konsumsi gula nasional periode 2024-2025 mencapai 7,6 juta ton, termasuk tertinggi secara global. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 juga mencatat 67,21 persen masyarakat mengonsumsi MBDK.
‎
‎"Sesuai pernyataan Menteri Koordinasi Bidang Pangan tersebut, kami mendorong agar label peringatan Tinggi Gula pada MBDK segera dikaji dan dapat segera diterapkan untuk melindungi hak atas kesehatan masyarakat demi Generasi Emas," kata Ari, dalam keterangan pers, Jumat (14/11/2025).
‎
‎Ari menilai, kebijakan label Tinggi Gula penting diterapkan karena sudah menjadi standar efektif di berbagai negara seperti Meksiko, Peru, Chile, Argentina, Uruguay, Brasil, Kolombia, Kanada, dan Venezuela. 
‎
‎"Label ini dinilai mampu memberi peringatan visual yang jelas dan membantu konsumen cepat mengenali produk tinggi gula," tegasnya.
‎
‎Ari memastikan, penerapan label ini terbukti efektif di sejumlah negara seperti Amerika Latin, Kenya, dan Afrika Selatan karena mudah dipahami dan mendorong konsumen membuat pilihan yang lebih sehat. 
‎
‎"Sudah saatnya pemerintah Republik Indonesia memberikan perlindungan penuh warganya dari MBDK. Sebab, biaya kesehatan penyakit Diabetes sebagai penyakit tidak menular (PTM) juga tidak sedikit," pungkas Ari. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Automotif
wwwwww