Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
Sepakbola
23 jam yang lalu
Riko Simanjuntak Minta Maaf Kepada Fans PSS Sleman
2
Alasan Bernando Tavares Tunjuk Yuran Fernandes Jadi Eksekutor
Sepakbola
23 jam yang lalu
Alasan Bernando Tavares Tunjuk Yuran Fernandes Jadi Eksekutor
3
Francisco Rivera Unjuk Kualitas Dalam Alirkan Bola dan Ambil Keputusan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Francisco Rivera Unjuk Kualitas Dalam Alirkan Bola dan Ambil Keputusan
4
Darije Kalezic Ungkap Kunci Hentikan Tren Cetak Gol Bhayangkara FC
Sepakbola
24 jam yang lalu
Darije Kalezic Ungkap Kunci Hentikan Tren Cetak Gol Bhayangkara FC
5
Pelatih Borneo FC Soroti Banyak Peluang Terbuang
Sepakbola
23 jam yang lalu
Pelatih Borneo FC Soroti Banyak Peluang Terbuang
6
Madura United FC Raih Tiga Penghargaan Bulan September 2026
Sepakbola
23 jam yang lalu
Madura United FC Raih Tiga Penghargaan Bulan September 2026
Home  /  Berita  /  Automotif

Rekan Indonesia Desak Penghapusan Rujukan Berjenjang Sebab Dinilai Tidak Efektif

Rekan Indonesia Desak Penghapusan Rujukan Berjenjang Sebab Dinilai Tidak Efektif
Rekan Indonesia saat melakukan aksi di depan Kementerian Kesehatan. (Ist)
Jum'at, 14 November 2025 08:38 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia menilai sistem rujukan berjenjang BPJS Kesehatan tidak lagi relevan dan harus segera dihapus.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho menyebut, mekanisme tersebut membuat alur pelayanan menjadi panjang, bertele-tele, dan berpotensi memperlambat penanganan pasien.

‎
‎"Dalam sistem yang berlaku saat ini, pasien harus memulai layanan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebelum dirujuk ke rumah sakit tipe D atau C. Jika membutuhkan penanganan lanjutan, pasien kembali dirujuk ke rumah sakit tipe B, dan pada kondisi tertentu baru menuju rumah sakit tipe A," kata Agung, dalam.keterangan tertulisnya, Jumat (14/11/2025).
‎
‎Menurut Agung, alur panjang itu tidak sejalan dengan kebutuhan klinis pasien. Dokter FKTP sebenarnya sudah dapat menilai sejak awal jenis penyakit dan kategori rumah sakit yang paling sesuai untuk menangani kasus tersebut.
‎
‎"Rujukan berjenjang membuat pasien dipingpong dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Padahal di FKTP sudah bisa diprediksi pasien harus ditangani di RS tipe apa. Sistem seperti ini tidak efektif dan tidak efisien," tegasnya.
‎
‎Ia menilai perpindahan antarlevel rumah sakit menyebabkan antrean dan pemeriksaan harus diulang hingga akhirnya menambah biaya transportasi, menghabiskan waktu, serta meningkatkan risiko kondisi pasien memburuk karena keterlambatan penanganan.
‎
‎Agung menekankan perlunya penerapan mekanisme rujukan berbasis kompetensi. Melalui skema tersebut, dokter FKTP dapat langsung merujuk pasien ke rumah sakit yang memiliki kemampuan dan fasilitas sesuai kebutuhan medis tanpa melalui tahapan bertingkat.
‎
‎"Prinsipnya sederhana, pasien harus langsung ditangani oleh rumah sakit yang memiliki kompetensi. Kalau butuh tipe A, ya langsung ke tipe A. Tidak perlu melewati D, C, dan B dulu," tukasnya.
‎
‎Dari sisi pembiayaan, Agung menilai, sistem baru itu dapat mengurangi pemeriksaan berulang dan menekan biaya yang saat ini ditanggung BPJS Kesehatan akibat perpindahan yang tidak perlu.
‎
‎Pemerintah sebelumnya menyampaikan tengah mengkaji perombakan sistem rujukan demi peningkatan efektivitas layanan kesehatan. Rekan Indonesia meminta agar perubahan tersebut dilakukan secara menyeluruh dan segera diimplementasikan.
‎
‎"Ini bukan sekadar penyederhanaan prosedur, tapi soal keselamatan pasien dan efisiensi layanan publik. Penghapusan rujukan berjenjang sudah sangat mendesak," terangnya.
‎
‎Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai waktu penerapan sistem rujukan berbasis kompetensi. Namun dorongan dari berbagai pihak semakin menguat seiring evaluasi terhadap sistem yang berjalan saat ini. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Automotif
wwwwww