Rekan Indonesia: Angka Depresi di Jakarta Harus Dicarikan Solusi Nyata
![]() |
| Ketua Umum Relawan Kesehatan Indonesia, Agung Nugroho. (Ist) |
Minggu, 23 November 2025 08:03 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, tentang perlunya survei untuk memastikan tingginya angka depresi di ibu kota, disikapi dengan nada hati-hati oleh Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho.
Menurutnya, seruan survei itu bisa dimaknai positif, namun jangan sampai membuat pemerintah kehilangan kesempatan untuk mendengar suara warga yang sedang lelah secara mental.
"Survei itu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah empati. Di balik angka, ada manusia yang sedang menahan banyak hal dalam diam," kata Agung, melalui keterangan tertulis, Minggu (23/11/2025).
Agung menilai, kehidupan warga Jakarta berubah sangat cepat dan tekanan mental sering muncul jauh sebelum terdeteksi oleh survei formal.
"Masyarakat kota besar tidak selalu pandai bercerita tentang perasaannya. Banyak yang memilih menyimpan, menunda, atau mengalihkan. Ketika pemerintah fokus pada angka dan verifikasi data, kadang kita lupa bahwa warga sedang berjuang hari demi hari," tegasnya.
Menurutnya, depresi di Jakarta bukan hanya persoalan klinis. Ia tumbuh dari perjalanan panjang, rutinitas yang melelahkan, kemacetan yang menggerus waktu, kesepian di tengah keramaian, serta kecemasan ekonomi yang tak henti menekan.
"Jika kita hanya bertanya apakah angkanya benar lebih tinggi dari nasional, bisa jadi kita melewatkan pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana sebenarnya kondisi batin warga Jakarta hari ini?," ucapnya.
Agung menjelaskan, dirinya memahami keinginan pemerintah untuk berhati-hati membaca data. Namun, ia juga mengingatkan bahwa terlalu lama berhenti di tahap survei bisa membuat pemerintah kehilangan momentum untuk menghadirkan perubahan.
"Pemerintah tidak perlu menunggu survei sempurna untuk mulai menyediakan ruang aman, layanan konseling yang mudah dijangkau, atau kampanye yang menguatkan," ungkapnya.
Ia menekankan, keseriusan pemerintah bukan hanya terlihat dari berapa kali survei dibuat, tetapi dari kehadiran layanan yang membuat warga merasa tidak sendirian.
"Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan diagnosis, tapi pintu yang bisa diketuk ketika hidup terasa terlalu berat," bebernya.
Agung juga mengajak Pemprov DKI untuk memandang kesehatan mental sebagai bagian dari kualitas hidup kota, bukan sekadar indikator statistik.
"Jakarta sering bicara tentang pembangunan, tetapi kesehatan mental adalah pembangunan yang tidak terlihat. Ia menyangkut kedamaian hati warganya," imbuhnya.
Agung mengapresiasi niat Wagub namun berharap langkah itu menjadi awal, bukan alasan untuk menunda.
"Silakan survei, itu baik. Tapi, jangan biarkan survei membuat kita menunggu terlalu lama untuk bertindak. Warga sudah memberikan sinyal. Tugas kita mendengarnya, bukan setelah data lengkap, tetapi sejak sekarang," pungkas Agung. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Automotif, DKI Jakarta |













