Perburuan Panjang Itu Usai: Dewi Astutik Tertangkap Setelah Bermain Kucing-Kucingan di Banyak Negara
![]() |
| Foto Dewi Astutik. (foto: detiknews/istimewa) |
JAKARTA – Bertahun-tahun aparat menelusuri jejaknya, tetapi Dewi Astutik selalu punya satu ruang untuk meloloskan diri. Ia bergerak seperti bayangan—muncul sekejap, lalu lenyap sebelum tangan hukum berhasil menyentuhnya. Namun pada akhirnya, pelarian sepanjang dua tahun itu berhenti juga. Dan ironi pahitnya: ia tertangkap justru ketika dunia seolah sudah mulai meragukan apakah ia pernah bisa ditemukan.
Dewi bukan nama baru dalam jaringan narkotika internasional. Ia masuk daftar DPO sejak 2024, namun baru benar-benar mengguncang negeri ketika BNN menggagalkan penyelundupan dua ton sabu di perairan Karimun. Nilai barang haram itu mencapai Rp5 triliun—jumlah yang bisa menghancurkan masa depan generasi muda Indonesia jika lolos ke pasar gelap.
“Dewi Astutik adalah pengendali di puncak jaringan,” tegas Komjen Marthinus Hukom saat mengungkap kasus tersebut (26/5).
Pernyataan itu bukan asumsi. Empat WNI yang ditangkap mengarah pada satu nama: Dewi. Bahkan Chancai, buron Thailand yang mengatur kapal MT Sea Dragon Tarawa, disebut bekerja dalam lingkaran yang terhubung dengannya.
Setiap kali aparat bergerak, Dewi sudah lebih dulu pindah. Ia berpindah negara seperti seseorang yang hanya memindahkan koper: cepat, tanpa jejak, dan tanpa suara. Ada laporan ia mengubah rambut, penampilan, hingga gaya hidup agar tidak dikenali. Semua itu membuatnya dijuluki sebagai buron paling licin yang pernah dihadapi BNN.
Namun secermat apa pun strategi pelarian, waktu selalu mengakhiri semuanya. Titik itu tiba ketika BNN menemukan keberadaan Dewi di Sihanoukville, Kamboja—kota pesisir yang kerap menjadi tempat persembunyian jaringan kriminal internasional.
Pada 1 Desember 2025, dalam operasi senyap bersama Interpol dan BAIS, pelarian Dewi berakhir. Setelah bertahun-tahun berpindah dari satu negara ke negara lain, ia tak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
Ketika pesawat yang membawanya mendarat di Jakarta pada Selasa malam (2/12), tangan Dewi terikat. Wajahnya tertunduk. Kilatan kamera menyambut kedatangannya—bukan sebagai seseorang yang dielu-elukan, tetapi sebagai simbol luka besar jaringan narkoba yang selama ini membayangi Indonesia.
Penangkapan itu bukan sekadar akhir pelarian. Itu adalah awal dari jawaban atas banyak pertanyaan:
Siapa saja yang selama ini membantunya?
Berapa banyak negara yang ia lalui?
Dan berapa besar kerusakan yang ditinggalkan jaringan yang dipimpinnya?
BNN kini menghadapi babak baru: mengurai cerita di balik perempuan yang selalu berhasil menghilang, hingga akhirnya kehilangan satu-satunya hal yang ia andalkan—kebebasan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Olympic, Basket, Beladiri, DKI Jakarta |













