Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
13 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
10 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
3
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
15 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
4
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
9 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
5
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Sepakbola
22 jam yang lalu
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
6
Marc Klok Terlecut Balas Pengorbanan Suporter Persib Yang Borong Tiket ACL 2
Sepakbola
22 jam yang lalu
Marc Klok Terlecut Balas Pengorbanan Suporter Persib Yang Borong Tiket ACL 2
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Purbaya Buka Suara soal PHK, Permintaan Lemah Jadi Biang Masalah

Purbaya Buka Suara soal PHK, Permintaan Lemah Jadi Biang Masalah
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa
Selasa, 23 Desember 2025 21:00 WIB

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meluas di berbagai sektor industri belum akan direspons pemerintah dengan penambahan stimulus fiskal. Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai persoalan utama PHK bukan terletak pada minimnya insentif, melainkan lemahnya permintaan pasar dan tersendatnya akses modal kerja bagi pelaku usaha.

“Enggak ada tambahan stimulus. PHK itu terjadi ketika permintaan melemah sekali. Itu berlangsung sekitar 10 bulan, 9 bulan tahun lalu,” ujarnya di Jakarta, Selasa (23/12/2025).

Menurutnya, penambahan stimulus tidak akan efektif jika dunia usaha belum melihat pemulihan permintaan yang nyata. Kondisi tersebut paling dirasakan sektor padat karya yang membutuhkan pembiayaan besar agar roda produksi tetap berputar.

Ia menjelaskan, tanpa dukungan modal kerja yang memadai, perusahaan akan kesulitan bertahan meski peluang pasar mulai terbuka. “Kalau perusahaan tidak punya akses ke modal kerja, tentu tidak bisa berkembang,” katanya.

Karena itu, pemerintah memilih fokus menyelaraskan kebijakan fiskal dengan sektor keuangan agar akses pembiayaan bagi dunia usaha tetap terjaga dan lebih mudah dijangkau.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri, mengungkapkan industri tekstil masih menjadi penyumbang terbesar PHK sepanjang 2025. Jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan hampir mencapai 80 ribu orang.

“Industri tekstil ini masih jadi kontributor utama PHK, kita sudah hampir 80 ribu orang PHK di 2025 ini,” ujarnya. 

Ia menambahkan, PHK tetap terjadi meski pemerintah telah menggelontorkan berbagai insentif ketenagakerjaan untuk sektor padat karya. Di sisi lain, masih banyak pekerja terdampak yang kesulitan mengakses program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Indah menilai, pembenahan pelaksanaan JKP serta penguatan akses modal kerja bagi industri menjadi langkah yang lebih mendesak dibandingkan menambah stimulus fiskal baru. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ekonomi, KONI, DKI Jakarta
wwwwww