Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
12 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Olympic
23 jam yang lalu
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
3
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
14 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
4
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Sepakbola
21 jam yang lalu
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
5
Marc Klok Terlecut Balas Pengorbanan Suporter Persib Yang Borong Tiket ACL 2
Sepakbola
21 jam yang lalu
Marc Klok Terlecut Balas Pengorbanan Suporter Persib Yang Borong Tiket ACL 2
6
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
9 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Home  /  Berita  /  Olympic

Luka Psikologis di Balik Tragedi Medan, Anak SD Terlibat Kasus Kematian Ibu

Luka Psikologis di Balik Tragedi Medan, Anak SD Terlibat Kasus Kematian Ibu
Konferensi pers anak bunuh ibunya di Medan, Senin (29/12/2025). (foto: kumparan)
Selasa, 30 Desember 2025 08:41 WIB

MEDAN – Kasus meninggalnya seorang ibu di tangan anak kandungnya sendiri di Kecamatan Medan Sunggal membuka tabir persoalan yang lebih dalam dari sekadar tindak pidana. Anak berinisial A (12), yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, diduga melakukan perbuatan tersebut setelah lama memendam tekanan emosional di lingkungan keluarga.


Peristiwa itu terjadi di Jalan Dwi Kora, Kelurahan Tanjung Rejo, Rabu (10/12/2025), dan kini ditangani serius oleh Polrestabes Medan. Polisi menilai kasus ini sarat persoalan psikologis dan pola pengasuhan yang keras. 

Kapolrestabes Medan, Jean Calvijn Simanjuntak, menyebutkan bahwa A tumbuh dalam situasi rumah tangga yang penuh tekanan. Ia kerap menyaksikan kakaknya menerima perlakuan kasar, sementara dirinya sendiri juga sering dimarahi.

“Kakaknya sering dimarahi, dimaki, bahkan dipukul menggunakan sapu dan tali pinggang. Sementara adiknya juga sering dimarahi dan dicubit,” ungkap Calvijn dalam konferensi pers, Senin (29/12/2025).

Tekanan itu semakin bertambah ketika pada 28 November 2025, sang ibu menghapus gim daring yang biasa dimainkan A. Kejadian tersebut disebut menjadi pemicu emosional yang memperparah kondisi kejiwaan anak.

“Anak ini mengaku sakit hati karena gim onlinenya dihapus,” jelasnya.

Polisi juga menemukan bahwa A kerap mengonsumsi tontonan yang mengandung unsur kekerasan. Dari pemeriksaan, diketahui A sering melihat gim bertema murder mystery dan beberapa serial animasi yang menampilkan adegan pembunuhan.

“Korban melihat adegan pembunuhan menggunakan pisau dari gim dan tayangan animasi yang ditontonnya,” ujar Calvijn. 

Salah satu tontonan yang disebut adalah serial anime Detektif Conan, khususnya episode yang menampilkan adegan kriminal dengan senjata tajam. Hal ini dinilai memberi pengaruh terhadap cara anak memahami dan meniru kekerasan.

“Obsesi itu kemudian terbawa dalam perbuatannya,” tambahnya.

Saat ini, A telah ditetapkan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum dan dijerat Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, juncto Pasal 338 dan Pasal 340 KUHP. Polisi memastikan proses hukum akan disertai pendampingan psikologis serta perlindungan hak anak, mengingat usia pelaku yang masih sangat muda. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Olympic, DKI Jakarta, Sumatera Utara
wwwwww