Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
20 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
21 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
20 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
20 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
21 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
20 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Badminton

Sutiyoso Ungkap Alasan Bangun Monorel Jakarta untuk Mobilitas Suporter ke GBK

Sutiyoso Ungkap Alasan Bangun Monorel Jakarta untuk Mobilitas Suporter ke GBK
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso saat meninjau pembongkaran tiang monorel.
Rabu, 14 Januari 2026 11:35 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso atau Bang Yos mengungkap, alasan utama pembangunan monorel Jakarta pada awal 2000-an, yakni untuk mempermudah mobilitas massal, termasuk pergerakan suporter sepak bola menuju dan dari Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.

‎Hal itu disampaikan Bang Yos saat mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam kegiatan penataan dan pembongkaran tiang monorel di kawasan H.R. Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

‎
‎Bang Yos mengaku, lega pembongkaran monorel akhirnya dimulai setelah proyek tersebut mangkrak hampir 22 tahun dan berubah menjadi besi tua yang merusak estetika kota. Menurut dia, kondisi tersebut tak bisa terus dibiarkan.
‎
‎"Monorel ini dulu dirancang untuk menanggulangi kemacetan, tapi kemudian mangkrak dan berubah jadi besi tua yang merusak estetika kota. Dalam kondisi seperti itu hanya ada dua pilihan, lanjutkan atau bongkar. Kalau tidak bisa dilanjutkan, ya harus dibongkar," ujar Bang Yos.
‎
‎Bang Yos menjelaskan, gagasan monorel muncul pada 2003 sebagai bagian dari jaringan transportasi makro Jakarta yang terintegrasi dengan MRT, busway, dan moda transportasi lain. Untuk mematangkan konsep, ia bersama tim bahkan melakukan studi banding ke sejumlah negara.
‎
‎"Saya studi banding ke beberapa negara, dan saya berhenti lama di Bogota, ibu kota Kolombia, karena situasinya hampir sama dengan Jakarta," katanya.
‎
‎Secara konsep, monorel Jakarta dirancang melayani dua lintasan utama, yakni Green Line Senayan-Kuningan-Casablanca dan Blue Line Kampung Melayu-Tanah Abang. Rute Senayan menjadi titik penting karena berdekatan langsung dengan kawasan olahraga nasional.
‎
‎Sutiyoso menuturkan, jalur tersebut sengaja dirancang untuk mengangkut suporter sepak bola, seperti Bobotoh pendukung Persib Bandung dan Bonek pendukung Persebaya Surabaya, agar tidak menumpuk di jalan raya.
‎
‎"Supaya Anda tahu kenapa minta rute Senayan. Supaya nanti kalau Bobotoh dari Bandung datang, Bonek dari Surabaya datang, dari stadion tidak ke darat, langsung naik monorel," ungkapnya.
‎
‎Ia menambahkan, skema tersebut juga dirancang agar arus kepulangan suporter tetap aman dan tertib. 
‎
‎"Nanti pulangnya begitu lagi, sehingga kita aman di bawah, di jalan-jalan. Itu maksudnya," ucap Bang Yos.
‎
‎Mantan Kepala BIN itu menilai, keputusan Gubernur Pramono untuk membongkar monorel merupakan langkah tepat meski tidak mudah. Baginya, kepastian pembongkaran menjadi penutup dari persoalan lama yang selama bertahun-tahun membebani Jakarta.
‎
‎"Keputusan ini memang tidak enak, tapi harus diambil. Sekarang saya merasa lega," pungkas Bang Yos. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww