Bisnis Empati di Trotoar Sudirman, Jualan Rasa Iba Berbalut Donasi
![]() |
| Kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat jadi lokasi paling sering dijajaki para komunitas penggalang dana. (foto: inilah.com/reyhaanah) |
JAKARTA – Kawasan Stasiun Sudirman hingga trotoar Jalan Jenderal Sudirman kini tak hanya riuh oleh langkah kaki pekerja, namun juga kepungan penggalang dana berkedok komunitas sosial. Bermodalkan keripik singkong, minuman dingin, hingga stiker, mereka menyasar empati warga yang sedang terburu-buru mengejar moda transportasi publik.
Aktivitas ini kerap menggunakan narasi anak yatim, program pendidikan, hingga bantuan korban bencana untuk menarik perhatian. Namun, di balik kata-kata mulia tersebut, banyak warga yang merasa terjebak dalam situasi canggung dan terpaksa merogoh kocek demi menghindari interaksi yang berlarut-larut.
Karyawan swasta, Hana, mengaku sering kali membeli barang yang ditawarkan bukan karena butuh, melainkan karena merasa tidak nyaman untuk menolak terus-menerus di tengah keramaian.
“Kadang bukan karena mau, tapi karena enggak enak nolak, jadi biar cepat saja deh dibeli sekalian pulang,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Fenomena ini memicu keresahan mengenai transparansi dana yang terkumpul. Banyak dari kelompok tersebut tidak mengantongi identitas resmi atau izin penggalangan dana dari instansi terkait. Nama komunitas yang dibawa pun sering kali berubah-ubah tanpa memiliki rekam jejak atau media sosial resmi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pekerja kreatif, Adrian, sempat mencoba menggali informasi lebih dalam saat dihampiri oleh salah satu kelompok tersebut di area publik beberapa waktu lalu.
“Kadang ingin tahu sih benar buat kegiatan sosial apa bukan. Soalnya pernah nemu ada yang komunitas betulan, ada juga pas ditanya tuh orangnya bingung kayak gelagapan gitu,” ungkapnya, Minggu (18/1/2026).
Meski sudah merasa curiga, Adrian akhirnya tetap memberikan uang karena merasa tidak enak hati setelah berbincang cukup lama dengan sang penggalang dana.
“Akhirnya ya sudah deh, pasrah beli, ngeluarin uang Rp 25 ribu, sudah terlanjur ngobrol juga,” tambahnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi ruang publik di Jakarta Pusat. Keamanan dan kenyamanan pejalan kaki yang hendak mengakses TransJakarta atau MRT mulai terusik oleh praktik eksploitasi rasa iba yang kian menjamur. Ketidakjelasan laporan penggunaan uang membuat garis antara aksi sosial murni dan strategi bertahan hidup di jalanan menjadi sangat tipis.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













