Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
21 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
21 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
21 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
21 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
21 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
20 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Badminton

‎Pemerhati Jakarta Sebut Upaya Pramono Anung Atasi Banjir Jakarta Sudah Tepat

‎Pemerhati Jakarta Sebut Upaya Pramono Anung Atasi Banjir Jakarta Sudah Tepat
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) (kanan) dan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kiri). (Ist).
Senin, 26 Januari 2026 10:24 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) menegaskan, penjelasan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo terkait banjir Jakarta pada Januari 2026 sudah benar dan berbasis data ilmiah.

‎Ia menilai, kritik yang menyudutkan penjelasan gubernur tersebut keliru karena tidak menempatkan peristiwa banjir ekstrem dalam konteks yang utuh.

‎
‎Ia menyebut, curah hujan ekstrem yang mencapai 200 hingga 267 milimeter per hari merupakan faktor utama meluasnya genangan di berbagai wilayah Jakarta dan berada jauh di atas kondisi normal.
‎
‎Menurut SGY, penjelasan Gubernur Pramono yang menyoroti hujan ekstrem sebagai pemicu banjir Januari 2026 tidak dapat dipahami secara parsial. Kata dia, Jakarta memang memiliki persoalan banjir struktural yang kompleks, namun dalam peristiwa tersebut hujan ekstrem menjadi penyebab langsung yang tidak terbantahkan.
‎
‎"Dengan curah hujan setinggi itu, sangat logis jika sistem drainase dan pompa air tidak mampu bekerja secara optimal. Gubernur menjelaskan sebab utama peristiwa banjir yang terjadi, bukan menutup mata terhadap persoalan tata kelola jangka panjang," kata SGY dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
‎
‎Ia menjelaskan, secara geografis dan historis, Jakarta menghadapi banjir akibat tiga faktor utama, yakni banjir kiriman dari wilayah hulu, rob di kawasan pesisir, serta curah hujan tinggi dan berkepanjangan. Dalam kasus Januari 2026, faktor hujan ekstrem menjadi dominan.
‎
‎SGY mengacu pada klasifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 milimeter per hari. Sementara itu, rata-rata curah hujan harian Jakarta dalam kondisi normal hanya sekitar 10–20 milimeter.
‎
‎"Artinya, hujan 200 hingga 267 milimeter per hari setara lebih dari sepuluh kali lipat kondisi normal. Secara ilmiah, penjelasan tersebut tidak bisa dibantah," ucapnya.
‎
‎Terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), SGY menyebut, kebijakan itu juga kerap disalahpahami. Ia menegaskan, OMC bukan bertujuan menghentikan hujan, melainkan mengalihkan awan hujan agar tidak turun di daratan Jakarta.
‎
‎“OMC merupakan langkah mitigasi jangka pendek dan menengah dalam situasi darurat cuaca ekstrem. Kebijakan ini bersifat teknis, terukur, dan dilakukan dengan perhitungan matang oleh lembaga terkait,” ujarnya.
‎
‎SGY menilai, respons Pemprov DKI Jakarta dalam penanganan banjir sudah berjalan cepat dan terarah. Sejumlah kebijakan darurat diterapkan, mulai dari pengaturan kerja dari rumah dan pembelajaran jarak jauh hingga pengerahan lebih dari seribu pompa air di titik rawan banjir.
‎
‎Selain penanganan darurat, pemerintah juga tetap menjalankan strategi jangka menengah dan panjang melalui normalisasi sejumlah sungai, seperti Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama, guna meningkatkan kapasitas aliran air.
‎
‎SGY mengapresiasi, langkah Gubernur Pramono yang turun langsung ke lapangan untuk meninjau lokasi terdampak banjir sekaligus memastikan distribusi bantuan logistik dan kebutuhan dasar warga berjalan dengan baik.
‎
‎Menurutnya, mulai surutnya genangan di banyak wilayah serta pulihnya layanan publik, termasuk operasional transportasi umum, menjadi indikator bahwa penanganan darurat dilakukan secara efektif.
‎
‎"Secara keseluruhan, langkah Gubernur Pramono mencerminkan respons cepat, kebijakan teknis yang terukur, serta strategi jangka menengah dan panjang yang sejalan dengan prinsip manajemen bencana. Karena itu, kritik yang menyebut penjelasan gubernur keliru jelas tidak tepat sasaran," pungkas SGY. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww