Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
15 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
15 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
15 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
15 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
15 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
14 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Umum

Kecam Anggaran 16 Triliun Saat Anak NTT Bunuh Diri, Aktivis Yogya Diintimidasi

Kecam Anggaran 16 Triliun Saat Anak NTT Bunuh Diri, Aktivis Yogya Diintimidasi
Ilustrasi (net)
Senin, 16 Februari 2026 06:53 WIB

YOGYAKARTA – Gelombang intimidasi terhadap suara kritis mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kian mengkhawatirkan. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, yang vokal mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kini harus menghadapi kenyataan pahit: teror tersebut telah merambah ke ranah keluarga.

Ibunda Tiyo menjadi sasaran intimidasi melalui pesan singkat WhatsApp pada Sabtu malam (14/2/2026). Pesan misterius tersebut berisi fitnah keji yang menuduh putranya menggelapkan dana kampus.

"Hobi nilep dana kampus ternyata, pantesan aktif banget, biar dapat setoran," ujar Tiyo menirukan isi pesan peneror tersebut, Minggu (15/2/2026).

Tak hanya teks, pengirim pesan juga menyertakan foto Tiyo dengan narasi provokatif yang menyebutnya menilap dana penggalangan untuk mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP). Serangan psikologis ini sempat membuat sang ibu waswas, meski Tiyo segera menenangkannya.

Eskalasi teror ini terjadi tak lama setelah Tiyo turun ke jalan bersama Komunitas Suara Ibu Indonesia di Bunderan UGM, Jumat (13/2/2026). Dalam aksi tersebut, ia mengenakan kaus hitam bertuliskan "Maling Berkedok Gizi" sebagai simbol perlawanan terhadap proyek MBG yang dinilai memangkas anggaran pendidikan dan merugikan siswa.

Sehari pasca-aksi, ancaman fisik diterima Tiyo. Seorang rekan mahasiswa menginformasikan adanya pihak yang mengincar nyawanya akibat orasi kritis tersebut.

Sebelumnya, Tiyo juga menerima pesan ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris usai BEM UGM mengirim surat terbuka ke United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada 6 Februari lalu. Surat itu menyoroti paradoks kebijakan pemerintah yang menyumbang Rp 16,7 triliun untuk lembaga asing, sementara seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah seharga Rp 10 ribu.

Menanggapi rentetan teror ini, pakar Hukum Tata Negara UGM, Herlambang P Wiratraman, mengecam keras upaya pembungkaman tersebut. Ia menilai kritik mahasiswa adalah ekspresi sah yang dilindungi konstitusi UUD 1945.

"Pelaku teror harus dimintai pertanggungjawaban. Kritik mereka bentuk ekspresi yang sah dan seharusnya dilindungi hukum," tegas Herlambang.

Pihak Direktorat Kemahasiswaan UGM dikabarkan telah menawarkan pendampingan bagi Tiyo. Meski ditekan dari berbagai sisi, termasuk dikuntit orang tak dikenal di sebuah kedai, Tiyo menegaskan tidak akan mundur.

"Penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang selama terus lahir orang-orang waras di republik ini," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:Metropolitan, Umum, DKI Jakarta, DI Yogyakarta
wwwwww