SGY: Ramadan Ajarkan Pola Hidup Sehat dan Disiplin untuk Kemajuan Jakarta
![]() |
| Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY). (Ist). |
Minggu, 15 Maret 2026 14:30 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY) menilai, bulan Ramadan tidak hanya memiliki makna spiritual bagi umat Islam, tetapi juga menjadi momentum membangun pola hidup sehat, disiplin, serta kepedulian sosial yang dapat mendorong kemajuan Jakarta dan kesejahteraan masyarakatnya.
SGY mengatakan, rutinitas yang dijalani selama Ramadan sejatinya mencerminkan pola hidup ideal bagi manusia karena mengajarkan keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan batin, disiplin waktu, dan kepedulian terhadap sesama.
"Ramadan mengajarkan keseimbangan hidup. Ada ibadah kepada Allah, pengendalian diri, disiplin waktu, menjaga kesehatan, serta memperkuat solidaritas sosial. Jika nilai-nilai ini terus dijaga, maka bukan hanya individu yang lebih baik, tetapi juga masyarakat dan kota bisa berkembang lebih maju," kata SGY dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026).
Menurutnya, selama Ramadan pola hidup masyarakat secara alami berubah menjadi lebih teratur. Banyak orang tidur lebih awal untuk mempersiapkan sahur dan bangun pada dini hari, sehingga ritme kehidupan menjadi lebih disiplin dibandingkan hari-hari biasa.
Ia menilai, kebiasaan tersebut memiliki dampak positif bagi kesehatan maupun ketenangan mental. Dalam pandangannya, puasa juga memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan pemulihan metabolisme, memperbaiki sistem pencernaan, hingga membantu proses regenerasi sel yang dikenal dalam ilmu kesehatan sebagai metabolic switching dan autophagy.
"Dalam perspektif kesehatan modern, puasa memberi ruang bagi tubuh untuk melakukan proses pemulihan metabolisme dan regenerasi sel. Ini menunjukkan bahwa ajaran puasa tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga manfaat kesehatan yang nyata," ujarnya.
SGY menilai, Ramadan juga melatih empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, masyarakat diharapkan semakin peduli terhadap sesama, terutama kepada kelompok yang kurang beruntung.
"Puasa mengingatkan kita untuk lebih peduli kepada orang lain. Karena itu, Ramadan selalu identik dengan meningkatnya sedekah, berbagi makanan, dan berbagai kegiatan sosial," jelasnya.
Lebih jauh, SGY berharap semangat kedisiplinan dan pola hidup seimbang yang terbentuk selama Ramadan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Ia menilai kebiasaan positif seperti tidur lebih awal, bangun lebih pagi, menjaga pola makan, serta memperbanyak ibadah dan kegiatan sosial seharusnya tetap dipertahankan.
Menurutnya, jika nilai-nilai Ramadan mampu dijaga dalam kehidupan sehari-hari, maka hal itu dapat membentuk masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berkarakter.
"Jika pola hidup Ramadan dapat dipertahankan sepanjang tahun, maka kita tidak hanya memperoleh kesehatan dan kebahagiaan di dunia, tetapi juga harapan keselamatan di akhirat," ungkap SGY.
SGY juga menyampaikan, setelah Idulfitri nanti dirinya akan kembali fokus menyoroti berbagai persoalan Jakarta, mulai dari tata kelola aset daerah, persoalan banjir, kemacetan, pengelolaan sampah, hingga pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah dan badan usaha milik daerah (BUMD).
Ia berharap, pembahasan berbagai isu tersebut dapat melahirkan solusi konkret bagi pembangunan Jakarta.
"Kita semua tentu berharap Jakarta semakin maju dan masyarakatnya hidup lebih sejahtera. Semoga semangat puasa dan nilai-nilai Ramadan bisa menjadi energi untuk mewujudkan harapan tersebut," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | PON, DKI Jakarta |













