Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
18 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
17 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
10 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
11 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
11 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
24 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Home  /  Berita  /  Nasional

Lebaran 2026 Terasa Kelabu di Tanah Abang, Pedagang Terpaksa Jual Rugi demi Bertahan

Lebaran 2026 Terasa Kelabu di Tanah Abang, Pedagang Terpaksa Jual Rugi demi Bertahan
Ilustrasi (net)
Senin, 23 Maret 2026 08:45 WIB

JAKARTA – Denyut nadi perdagangan di Pasar Tanah Abang, pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, menunjukkan tanda-tanda kelesuan mendalam menjelang momentum Lebaran 2026. Area yang biasanya dipadati lautan manusia kini justru terlihat lengang, dengan penurunan omzet pedagang yang dilaporkan mencapai 50 persen akibat kombinasi maut antara pergeseran pola belanja daring dan melemahnya daya beli masyarakat.

Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang mengambil langkah ekstrem demi menyambung napas usaha. Diana (45), seorang pedagang pakaian yang telah berjualan selama satu dekade, mengaku harus menjual rugi stok barangnya karena minimnya pembeli.

"Jatuh, turun pendapatan, sepi turun 50 persen, malah lebih. Parah tahun ini mah, anjlok," keluh Diana, Kamis (19/3/2026). Ia terpaksa memangkas harga barang dari Rp150.000 menjadi Rp100.000 per potong hanya agar modal bisa berputar di tengah tumpukan stok yang tak kunjung laku.

Kelesuan serupa dirasakan Pan (50), pedagang baju muslim yang melihat banyak rekan seprofesinya mulai gulung tikar. Menurutnya, kondisi tahun ini jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, Alwi (37), penjual gamis, mencoba bertahan dengan mengandalkan penjualan melalui marketplace untuk menutupi sepinya kunjungan fisik ke tokonya.

"Penjualan di sini Alhamdulillah, cuma nggak seramai tahun lalu karena mungkin tiap tahun dari segi ekonomi yang kurang, nggak semua suami-suami pada kerja, kena PHK," tutur Alwi.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal mengonfirmasi bahwa tekanan ekonomi memang paling terasa pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di bawah Rp4 juta per bulan. Upah riil pekerja yang tercatat mengalami kontraksi pada 2025 membuat daya beli kelas menengah ke bawah belum pulih sepenuhnya.

Senada dengan itu, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda memproyeksikan bahwa Ramadan dan Lebaran kali ini tidak akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ketidakpastian global dan kekhawatiran kenaikan harga energi memicu masyarakat untuk lebih banyak menahan belanja sebagai langkah antisipasi.

"Mereka mengendurkan belanja saat ini untuk bersiap di masa depan. Nampaknya momen Ramadan dan Lebaran kali ini tidak banyak mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan I/2026," pungkas Huda.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:bisnis.com
Kategori:Nasional, Ekonomi, DKI Jakarta
wwwwww