Lebaran 2026 Terasa Kelabu di Tanah Abang, Pedagang Terpaksa Jual Rugi demi Bertahan
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA – Denyut nadi perdagangan di Pasar Tanah Abang, pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, menunjukkan tanda-tanda kelesuan mendalam menjelang momentum Lebaran 2026. Area yang biasanya dipadati lautan manusia kini justru terlihat lengang, dengan penurunan omzet pedagang yang dilaporkan mencapai 50 persen akibat kombinasi maut antara pergeseran pola belanja daring dan melemahnya daya beli masyarakat.
Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang mengambil langkah ekstrem demi menyambung napas usaha. Diana (45), seorang pedagang pakaian yang telah berjualan selama satu dekade, mengaku harus menjual rugi stok barangnya karena minimnya pembeli.
"Jatuh, turun pendapatan, sepi turun 50 persen, malah lebih. Parah tahun ini mah, anjlok," keluh Diana, Kamis (19/3/2026). Ia terpaksa memangkas harga barang dari Rp150.000 menjadi Rp100.000 per potong hanya agar modal bisa berputar di tengah tumpukan stok yang tak kunjung laku.
Kelesuan serupa dirasakan Pan (50), pedagang baju muslim yang melihat banyak rekan seprofesinya mulai gulung tikar. Menurutnya, kondisi tahun ini jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, Alwi (37), penjual gamis, mencoba bertahan dengan mengandalkan penjualan melalui marketplace untuk menutupi sepinya kunjungan fisik ke tokonya.
"Penjualan di sini Alhamdulillah, cuma nggak seramai tahun lalu karena mungkin tiap tahun dari segi ekonomi yang kurang, nggak semua suami-suami pada kerja, kena PHK," tutur Alwi.
Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal mengonfirmasi bahwa tekanan ekonomi memang paling terasa pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di bawah Rp4 juta per bulan. Upah riil pekerja yang tercatat mengalami kontraksi pada 2025 membuat daya beli kelas menengah ke bawah belum pulih sepenuhnya.
Senada dengan itu, Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda memproyeksikan bahwa Ramadan dan Lebaran kali ini tidak akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ketidakpastian global dan kekhawatiran kenaikan harga energi memicu masyarakat untuk lebih banyak menahan belanja sebagai langkah antisipasi.
"Mereka mengendurkan belanja saat ini untuk bersiap di masa depan. Nampaknya momen Ramadan dan Lebaran kali ini tidak banyak mendongkrak pertumbuhan ekonomi triwulan I/2026," pungkas Huda.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | bisnis.com |
| Kategori | : | Nasional, Ekonomi, DKI Jakarta |













