Krisis Pasokan Bahan Baku Global Tekan Harga Plastik Pelaku Usaha Menjerit
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Lonjakan tajam harga plastik di pasaran kini menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan sektor industri. Terganggunya rantai pasok bahan baku global mengubah isu lingkungan ini menjadi ancaman ekonomi serius yang berpotensi melambungkan harga kebutuhan pokok bersampul kemasan.
Menghadapi krisis ketersediaan pasokan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan pemerintah mulai memetakan potensi sumber daya alam lokal. Bahan organik seperti rumput laut dan singkong dipersiapkan sebagai material substitusi nafta untuk menyiasati kelangkaan yang mendera pasar industri manufaktur.
Efek domino macetnya rantai distribusi material ini turut menjadi sorotan tajam pengamat ekonomi. Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan komoditas pembungkus tersebut merupakan tulang punggung operasional banyak sektor usaha.
"Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli," urainya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Tekanan beban biaya produksi sangat dirasakan oleh para pelaku usaha kecil dan menengah. Margin keuntungan dagang mereka terancam menipis apabila lonjakan tarif bahan dasar tidak segera disesuaikan dengan nilai jual barang, yang berujung pada penyempitan ruang gerak bisnis di tengah situasi tidak menentu. Kondisi ini membuat pembeli harus lebih cermat memilih barang dengan harga logis.
Menjawab ketidakpastian iklim ekonomi tersebut, sejumlah korporasi mulai putar haluan mencari strategi baru. Direktur PT Biru Semesta Abadi, Yantje Wongso, memaparkan bahwa penerapan metode penggunaan kembali (reuse) serta pengisian ulang (refill) menjadi langkah adaptif krusial demi mempertahankan operasional perusahaan.
"Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang," tegasnya.
Penyedia layanan air minum tersebut membuktikan skema pendistribusian yang mengharuskan pelanggan membawa wadah sendiri terbukti ampuh melepaskan jerat kebergantungan terhadap material buatan pabrik yang harganya fluktuatif.
"Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok," paparnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Nasional |













