Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
Olympic
23 jam yang lalu
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
2
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
23 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
3
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
24 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
4
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
Sepakbola
24 jam yang lalu
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
5
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
10 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Home  /  Berita  /  Voli

Tabung Gas Dua Belas Kilo Melambung Warga Menengah Jakarta Mulai Lirik Elpiji Subsidi

Tabung Gas Dua Belas Kilo Melambung Warga Menengah Jakarta Mulai Lirik Elpiji Subsidi
Beberapa tabung Elpiji merah muda merek Bright Gas berukuran 12 kg dari Pertamina terlihat tertumpuk rapi di sebuah toko di Cilandak, Jakarta Selatan. Minggu (19/4/2026). (foto: kompas.com)
Minggu, 19 April 2026 17:46 WIB

JAKARTA - Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kilogram di pasaran memantik keluhan dari masyarakat. Tingginya lonjakan harga ini memicu sejumlah warga kelas menengah di wilayah Jakarta Selatan berpikir ulang dan mempertimbangkan beralih ke tabung hijau 3 kilogram.

Penelusuran di berbagai agen kawasan Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026), menunjukkan banderol Bright Gas 12 kg kini bertengger di angka Rp228.000 sampai Rp229.500 per tabung. Nominal tersebut melesat naik sekitar Rp36.000 dari harga sebelumnya yakni Rp192.000. Sebuah minimarket di sekitar Pasar Minggu bahkan mematok harga hingga Rp247.000 sesuai dengan keterangan kasir setempat.

Kondisi tersebut membuat warga perlahan melirik elpiji subsidi, kendati sadar peruntukannya khusus bagi rakyat miskin. Fia (34), warga Jakarta Selatan, mengaku kaget melihat lonjakan tajam harga gas nonsubsidi bulan ini.

"Kalau saya sih masih mampu beli, tapi kalau naiknya sebanyak ini, rasanya mending beli yang 3 kg saja," aku Fia saat dijumpai di salah satu agen daerah Cilandak, Minggu (19/4/2026).

Kenaikan biaya energi ini langsung membebani pengeluaran dapur keluarganya yang terbiasa menghabiskan satu tabung gas 12 kg per bulan demi alasan keamanan.

"Kalau naiknya Rp30.000 lebih kan lumayan banget. Bisa buat kebutuhan lain," jelasnya.

Pemikiran serupa turut dilontarkan Yadhi (41), warga Pasar Minggu. Kenaikan drastis di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif ini memaksanya memutar otak untuk menghemat biaya hidup.

"Kalau naiknya sedikit saya masih oke. Tapi kalau dari Rp192.000 jadi Rp228.000, itu naiknya jauh. Saya jadi mikir, apa lebih baik pakai yang 3 kg saja buat sementara," ungkapnya.

Pemilik agen gas di kawasan Cilandak, Suryanto (45), mencatat banyaknya pelanggan yang melayangkan protes terkait harga baru ini. Sebagian besar konsumennya biasa memesan dan bertransaksi lewat aplikasi WhatsApp.

"Keluhan pasti ada. Mereka bilang mahal, naiknya jauh. Tapi ujung-ujungnya tetap pesan juga, karena butuh," urai Suryanto.

Ia menyebut jumlah pelanggan yang langsung datang berbelanja ke agen juga merosot tajam usai harga gas merangkak naik.

"Hari ini baru dua orang yang beli langsung. Biasanya lebih ramai," tambahnya.

Merujuk data resmi situs Pertamina Patra Niaga, Minggu (19/4/2026), harga Bright Gas 12 kg di wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Jawa Timur berkisar Rp228.000 per tabung. Sementara untuk kawasan Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, banderolnya menyentuh angka Rp230.000.

Merespons potensi peralihan konsumen secara masif ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa gas 12 kg murni diperuntukkan bagi kalangan warga mapan.

"Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan," sebut Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Bantuan negara melalui program subsidi energi merupakan hak mutlak masyarakat tidak mampu. Oleh karena itu, kelompok ekonomi atas diminta kesadarannya untuk tidak merampas jatah tersebut.

"Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok," terangnya.

Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, harga elpiji 3 kg dipastikan tetap stabil di tengah gejolak pasar global. Namun untuk gas nonsubsidi, harganya akan selalu bergerak mengikuti hukum pasar.

"Harga pasar. Jadi contoh model kayak orang kaya, masa orang pendapatannya di atas Rp500 juta per bulan disuruh pakai elpiji 3 kg? Sorry ye," sindir Bahlil.

Terkait pasokan energi, pemerintah memastikan stok gas nasional saat ini melimpah dan aman. Konsolidasi bersama berbagai pihak juga terus dilakukan, termasuk membuka jalur impor alternatif baru dari Rusia guna menjamin ketahanan energi di dalam negeri.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Nasional, Badminton, Voli
wwwwww