Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
4 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
4 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
6
‎DPRD DKI Pastikan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Tak Dipangkas di APBD 2027
Metropolitan
5 jam yang lalu
‎DPRD DKI Pastikan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Tak Dipangkas di APBD 2027
Home  /  Berita  /  PON

‎Kadisbud DKI: Pementasan Rutin Jadi Kunci Menjaga Kesenian Tetap Hidup di Jakarta

‎Kadisbud DKI: Pementasan Rutin Jadi Kunci Menjaga Kesenian Tetap Hidup di Jakarta
Pementasan sandiwara di Gedung Kesenian Miss Tjitjih. (Ist)
Minggu, 19 April 2026 18:22 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary menegaskan, komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menghidupkan dan menjaga kesenian tradisional melalui pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 sebagai bagian dari penguatan ekosistem berkesenian di ibu kota.

Pementasan terbaru bertajuk "Kembang Turangga Jati" digelar pada Sabtu (18/4/2026) di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat, dan disambut antusias masyarakat. Sebanyak 252 penonton memenuhi kapasitas gedung, sementara total 553 orang tercatat mendaftar untuk menyaksikan pertunjukan tersebut secara gratis. 

‎
‎Tingginya minat ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat urban, khususnya generasi muda. 
‎
‎"Sebagai upaya menciptakan dan mengembangkan ekosistem berkesenian di Jakarta, Dinas Kebudayaan menghadirkan pementasan rutin yang dapat dinikmati masyarakat dengan mudah. Pertunjukan ini terbuka untuk semua kalangan sebagai sarana aktivasi, edukasi, dan regenerasi," kata Miftahulloh dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026). 
‎
‎Miftahulloh mengatakan, pementasan rutin tersebut merupakan langkah konkret pemerintah daerah dalam menciptakan ruang ekspresi sekaligus memastikan keberlanjutan seni tradisional di Jakarta yang multikultural. 
‎
‎Ia menuturkan, keberadaan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih yang telah eksis hampir satu abad sejak 1928 menjadi bukti bahwa kesenian daerah mampu bertahan dan berkembang di tengah modernisasi kota. 
‎
‎Menurutnya, kebudayaan Sunda merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Jakarta. Sejak masa kolonial, masyarakat dari Jawa Barat membawa bahasa, tradisi, dan kesenian yang kemudian beradaptasi dengan budaya lokal, termasuk Betawi, hingga menjadi bagian dari identitas budaya kota saat ini. 
‎
‎Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Rinaldi menyampaikan, tren minat masyarakat terhadap seni pertunjukan di Jakarta menunjukkan peningkatan signifikan. Tingginya jumlah pendaftar pada setiap pementasan menjadi indikator kuat bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya.
‎
‎"Animo masyarakat terhadap pertunjukan seni budaya begitu tinggi, dan menariknya didominasi oleh generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bahwa seni tradisional tetap relevan dan diminati," ujar Rinaldi. 
‎
‎Sebagai bentuk komitmen menjaga keberlangsungan kesenian, Pemprov DKI Jakarta berencana menggelar sebanyak 10 kali pementasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih sepanjang tahun 2026. Program ini sekaligus menjadi sarana edukasi budaya dan ruang regenerasi seniman di ibu kota. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:PON, DKI Jakarta
wwwwww