Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
12 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
12 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
23 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
12 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
11 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
11 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
Home  /  Berita  /  Nasional

Pasar Menunggu Komitmen Pemerintah untuk Disiplin Fiskal

Pasar Menunggu Komitmen Pemerintah untuk Disiplin Fiskal
Mulyanto. (Ist)
Senin, 04 Mei 2026 21:49 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Pemerintah harus menyikapi dengan bijak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.300 per dolar AS (data 2 Mei 2026) serta anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari belakangan.

Ketua MPP PKS itu mendorong Pemerintah mengirimkan sinyal politik yang kuat, jelas, dan kredibel kepada pasar, bahwa Indonesia berkomitmen penuh untuk menjalankan disiplin fiskal, menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% PDB, serta memastikan independensi otoritas moneter.

Mulyanto mengatakan sinyal politik yang terukur dan berbasis data tersebut akan menjadi fondasi awal bagi upaya pemulihan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

"Pasar kan harus dapat membaca komitmen kuat dan jelas dari Pemerintah. Baru mereka tidak ragu untuk bersikap," tambah Mulyanto.

Selain itu, menurut Mulyanto pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret berupa koreksi kebijakan fiskal melalui evaluasi menyeluruh terhadap program-program belanja negara.

Program sosial dan proyek yang tidak efektif dan tidak efisien perlu ditata ulang, bahkan bila perlu ditunda. Kebijakan ini penting disertai dengan angka penghematan yang jelas, agar pasar melihat adanya keseriusan dalam menjaga keberlanjutan fiskal.

Pasalnya pelemahan nilai rupiah, koreksi tajam di pasar saham, penurunan peringkat investasi di pasar global, meningkatnya beban pembayaran utang, serta defisit APBN yang mendekati batas 3% PDB merupakan indikasi kuat bahwa pasar tengah mengoreksi persepsi terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

Ini menunjukkan tekanan ekonomi yang tidak bisa dipandang sebagai fluktuasi biasa, dan juga bukan semata-mata persoalan eksternal geopolitik, melainkan juga refleksi dari kekhawatiran terhadap disiplin fiskal domestik dan kualitas tata kelola ekonomi nasional.

Langkah-langkah di atas sangat penting di samping mendesaknya penguatan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di segala sektor. Termasuk, dalam tata kelola sektor keuangan.

Otoritas keuangan terkait perlu memastikan transparansi, menertibkan praktik-praktik yang merusak integritas pasar, serta meningkatkan perlindungan investor.

Langkah-langkah di atas sangat strategis untuk mengembalikan kepercayaan lembaga pemeringkat global dan indeks saham internasional terhadap kredibilitas pasar modal Indonesia.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi nasional sangat ditentukan oleh keberanian Pemerintah untuk mengambil sikap yang tepat demi kepentingan nasional jangka panjang.

Dengan langkah politik yang tegas, terukur, dan berpihak pada prinsip kehati-hatian, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk keluar dari tekanan ekonomi ini dan kembali pada jalur pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. ***

wwwwww