Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
17 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
17 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
17 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
16 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
17 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
16 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Nasional

KPBI Dorong Hilirisasi dan Penguatan Selat Malaka untuk Kedaulatan Ekonomi

KPBI Dorong Hilirisasi dan Penguatan Selat Malaka untuk Kedaulatan Ekonomi
Ketua Umum KPBI, Ilhamsyah. (Ist)
Jum'at, 08 Mei 2026 09:17 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) mendorong pemerintah memperkuat strategi hilirisasi nasional dan pengembangan kawasan Selat Malaka sebagai pusat ekonomi maritim dunia.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap kepentingan asing. Sebab, menjadi negara kaya sumber daya tetapi tetap bergantung pada pihak luar sudah terlalu lama dijadikan hobi pembangunan.

 
Ketua Umum KPBI, Ilhamsyah mengatakan, arah industrialisasi Indonesia selama ini masih terlalu dipengaruhi investasi asing, penguasaan teknologi luar negeri, serta orientasi pasar global. Akibatnya, Indonesia disebut hanya menjadi bagian dari rantai produksi dunia tanpa memiliki kendali penuh terhadap sektor-sektor strategis.
 
"Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, dan tenaga kerja besar. Namun ketika potensi itu tidak dijadikan basis utama pembangunan, Indonesia hanya menjadi bagian dari rantai produksi global, bukan pengendali di dalamnya," kata Ilhamsyah, Jumat (8/5/2026).
 
Menurut Ilhamsyah, kebijakan hilirisasi yang mulai dijalankan pemerintah merupakan langkah penting untuk memperkuat industri nasional. Namun, ia menilai kebijakan tersebut tidak boleh berhenti pada sektor pertambangan saja.
 
KPBI mendorong hilirisasi diperluas ke berbagai sektor industri strategis dengan menempatkan badan usaha milik negara (BUMN) sebagai motor utama pembangunan. Kerja sama dengan investor asing dinilai tetap memungkinkan, tetapi kendali mayoritas dan operasional harus tetap berada di tangan Indonesia.
 
"Hilirisasi penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah. Tetapi jika tetap didominasi modal asing, maka kendali ekonominya tidak benar-benar berpindah ke tangan bangsa sendiri," tegasnya.
 
Selain hilirisasi, ia juga menyoroti potensi besar kawasan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan strategis dunia. Ilhamsyah menyebut kawasan tersebut dapat menjadi pusat layanan maritim internasional karena setiap tahun dilintasi puluhan hingga ratusan ribu kapal.
 
Ilhamsyah menyebut, wilayah pesisir mulai dari Aceh hingga Riau memiliki peluang besar dikembangkan menjadi pusat bunkering, hub logistik internasional, hingga perdagangan energi global.
 
"Selat Malaka ibarat jalan tol global. Aktivitas bernilai tinggi seperti bunkering, logistik, hingga transshipment selama ini justru lebih banyak dinikmati negara lain," ujarnya.
 
Ia meminta pemerintah dapat menyusun strategi nasional terintegrasi untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan tersebut. Strategi itu mencakup pembangunan pelabuhan laut dalam atau deep sea port, fasilitas bunkering BBM dan LNG, kawasan industri maritim terpadu, hingga penguatan fungsi transshipment di wilayah Indonesia.
 
"Kami menilai pengembangan sektor maritim dan industri strategis berpotensi membuka lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Namun, Ilhamsyah mengingatkan agar pembangunan tetap memperhatikan hak-hak pekerja," ungkapnya.
 
Menurutnya, organisasi buruh harus dilibatkan dalam proses pembangunan agar proyek strategis nasional berjalan adil dan berkelanjutan.
 
"Regulasi yang berpihak pada kepentingan nasional menjadi kunci. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menguntungkan pemilik modal tanpa memberikan manfaat yang seimbang bagi negara, buruh, dan masyarakat," jelasnya.
 
Ilhamsyah menambahkan, Indonesia sejatinya memiliki seluruh modal untuk menjadi kekuatan ekonomi maritim dunia. Tantangan utamanya, terletak pada arah kebijakan dan keberpihakan pembangunan nasional.
 
"Jika negara mampu mengambil peran secara tegas dan masyarakat, termasuk buruh, terorganisir dengan kuat, maka Indonesia tidak hanya menjadi jalur perdagangan dunia, tetapi juga pemain utama di dalamnya," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Nasional
wwwwww