Koalisi JATA Bahas Isu Air Tanah di Tengah Fenomena El Nino Godzilla
![]() |
| Koalisi JATA adakan FGD bahas air tanah di tengah ancaman musim kemarau. (Ist) |
Selasa, 12 Mei 2026 19:59 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuka peluang melakukan modifikasi cuaca jika terjadi musim kemarau berkepanjangan.
Hal ini disampaikan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Ruang, Nirwono Joga usai Focus Group Discussion (FGD)
bertajuk "Air Tanah di Tengah Ancaman Elnino: Krisis yang Tidak Terlihat" yang diinisiasi Koalisi Air Tanah Jakarta (JATA).
Nirwono mengatakan, Pemerintaj Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, PAM Jaya, dan elemen masyarakat, termasuk JATA harus bersama-sama berbagi peran untuk menjaga air.
"Kan ada yang tugasnya pemerintah regulasi, kemudian PAM penyediaan, sementara dari koalisi kan bisa mengawal pelaksanaan di lapangan," kata Niwono, di lokasi acara, Posko JATA, Jalan Kampung Melayu Kecil 3, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026) malam.
Nirwono menambahkan, DPRD juga sebagai regulator juga perlu mendengarkan aspirasi dari teman-teman koalisi.
"Aturannya bagaimana, pengawalnya dari bentuk apa sih masyarakat, sehingga patuh penegakan hukum pun juga tahu jelas. Misalnya, kalau dinas yang melakukan penegakan hukum dari teman-teman komunitas bagaimana memantau penegakan hukum itu," tetnagnya.
Ia mencontohkan, daerah industri, daerah perumahan tentu perlu inspeksi atau audit. DPRD tentu dapat ikut turun ke lapangan kan, jadi ikut mengawal aturan yang sudah ada itu dapat dilaksanakan di lapangan atau tidak.
"Kalau tidak kendalanya apa tadi misalnya. Kan tidak semuanya bisa diterapkan, kalau sekitarnya belum ada perpipaan disuruh pakai air PAM ya pasti tidak bisa," ucapnya.
Menurutnya, terkait potensi kekeringan karena adanya fenomena El Nino Godzilla, upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan badan air yang ada, tadi kan sungai dan waduk.
"Kemudian, kalau tadi kita bicara modifikasi, pada saat musim hujan kemarin mengurangi curah hujan,
sementara pada saat musim kemarau mendatangkan hujan. Sehingga bisa saling mengisi dan modifikasi cuaca bukan hal yang baru juga sebenarnya," bebernya.
Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM JAYA, Gatra Vaganza menyebut, penggunaan air tanah sebenarnya tidak sepenuhnya aman meski tampak jernih secara kasat mata.
"PAM Jaya terus mendorong masyarakat beralih ke air perpipaan. Kami juga berupaya meningkatkan debit air seiring bertambahnya pelanggan," ungkapnya.
Ia memaparkan, hingga kini PAM Jaya telah menambah 1.183.669 sambungan pelanggan atau mencapai 81,11 persen dari target total 2.010.888 sambungan.
"Sejauh ini kami belum melihat adanya potensi kekurangan suplai air perpipaan. Namun, kalau ada kekeringan justru mungkin berdampak pada warga yang masih menggunakan air tanah," imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Presidium JATA, Laode Kamaludin menjelaskan, hampir 40 persen warga Jakarta masih menggunakan air tanah dalam aktivitas sehari-hari.
"Eksploitasi air tanah membuat muka tanah Jakarta terus menurun tiap tahun, terutama Jakarta Utara. Bahkan usaha air isi ulang juga masih banyak memanfaatkan air tanah," ucapnya.
Sebagai langkah konkret, lanjut La Ode, Koalisi JATA berencana membuka posko di setiap kecamatan untuk mendorong percepatan penggunaan air perpipaan sekaligus mengedukasi masyarakat terkait bahaya eksploitasi air tanah.
"Kami membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin ikut membuat posko demi meminimalisir eksploitasi air tanah," pungkas La Ode. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













