Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
24 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
24 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
23 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
24 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
23 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
23 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Kontrol Ekspor Terpusat Dinilai Berisiko Rusak Iklim Investasi Nasional

Kontrol Ekspor Terpusat Dinilai Berisiko Rusak Iklim Investasi Nasional
Ilustrasi (net)
Jum'at, 22 Mei 2026 12:35 WIB

JAKARTA - Rencana pemerintah untuk memperkuat kontrol ekspor melalui sentralisasi kebijakan mendapat peringatan keras dari kalangan parlemen. Langkah strategis ini dianggap berpeluang mengguncang stabilitas ekonomi dan mengusir masuknya investasi apabila tidak dibarengi instrumen regulasi yang komprehensif.

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Golkar, Firman Soebagyo menyoroti potensi bahaya jika negara memegang kendali ekspor terlalu dominan. Kegagalan sistem serupa telah terbukti menghancurkan perekonomian di negara lain secara masif.

"Ada juga yang gagal, yang gagal Venezuela. Itu gagal total, ekonominya berantakan," urai Firman melansir RMOL, Jumat (22/5/2026).

Niat baik pemerintah memberantas praktik penyimpangan seperti under invoicing seharusnya diwujudkan melalui pengetatan sistem pengawasan institusi. Mengambil alih tata niaga ekspor secara sepihak justru bukan jalan keluar yang tepat bagi iklim usaha.

"Harusnya fungsi pengawasannya yang ditingkatkan, bukan kemudian diambil alih seperti itu," paparnya.

Keberlangsungan ekonomi nasional tidak bisa semata-mata menyandarkan diri pada kekuatan APBN, melainkan membutuhkan partisipasi aktif pihak swasta. Regulasi yang memberatkan investor dikhawatirkan memicu fenomena capital flight keluar dari dalam negeri.

"Kalau sampai terjadi capital flight, sektor-sektor besar seperti sawit, pertambangan, minyak dan gas bisa terdampak," jelasnya.

Pengalaman negara Chile yang sukses menerapkan kebijakan ekspor lewat perusahaan negara bisa menjadi bahan evaluasi, namun tetap harus disesuaikan dengan struktur ekonomi Indonesia yang jauh lebih kompleks. Pemerintah dituntut cerdik dalam menjaga keseimbangan iklim usaha, perlindungan petani, hingga terjaganya ketahanan harga pangan.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Voli, Ekonomi, DKI Jakarta
wwwwww