Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
22 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
23 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
23 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
23 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
21 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
12 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Nasional

Hadapi Ketidakpastian Global, DEN Sebut Fundamental Ekonomi RI Lebih Kuat dari Krisis 1998

Hadapi Ketidakpastian Global, DEN Sebut Fundamental Ekonomi RI Lebih Kuat dari Krisis 1998
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Chatib Basri usai menghadap Presiden RI Prabowo Subianto bersama dengan jajaran DEN lainnya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).(Foto: inilah.com/Vonita Betalia)
Rabu, 10 Juni 2026 09:21 WIB

JAKARTA - Di tengah gejolak pasar keuangan internasional, posisi tawar ekonomi Indonesia diklaim masih memiliki daya tahan yang tinggi. Struktur perbankan dan dunia usaha domestik saat ini dinilai memiliki bantalan yang kuat untuk meredam guncangan eksternal.

Pernyataan optimistis tersebut dilontarkan oleh Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Firman Hidayat pasca-melangsungkan rapat koordinasi dengan Presiden RI, Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).

"Selain dari indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, salah satu yang kami highlight adalah neraca korporasi yang dalam posisi yang sangat sehat," jelas Firman Hidayat saat memberikan keterangan bersama anggota komite lainnya.

Komparasi Historis Struktur Keuangan Negara

Manajemen risiko yang diterapkan oleh pelaku industri dan regulator dinilai berhasil menjaga benteng pertahanan ekonomi nasional tetap stabil, sehingga kondisinya jauh berbeda dengan situasi krisis finansial masa lalu.

Firman Hidayat membeberkan beberapa parameter utama yang menunjukkan ketahanan ekonomi domestik:

  • * Pertumbuhan Ekonomi: Laju pertumbuhan nasional terpantau masih berada di level yang cukup tinggi.
  • * Pengendalian Inflasi: Pergerakan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat secara umum masih terjaga stabil.
  • * Kesehatan Korporasi: Lembar neraca keuangan perusahaan domestik dan sektor perbankan berada dalam kondisi prima.

Kendati indikator makro berkinerja positif, pemerintah diimbau tidak lengah terhadap durasi konflik internasional yang terus memanjang melebihi ekspektasi awal.

Ancaman Rambatan Fluktuasi Rupiah ke Sektor Riil

Pada kesempatan yang sama, Anggota DEN, Chatib Basri mengingatkan bahwa stabilitas ini bisa terganggu apabila pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terus melemah secara berlarut-larut.

Depresiasi nilai tukar ditengarai dapat memicu kenaikan ongkos impor yang berujung pada penyesuaian harga jual di tingkat konsumen.

"Satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari kelemahan rupiah," ujar Chatib Basri memberikan catatan waspada.

Efisiensi Anggaran Menjadi Kunci Utama

Guna memitigasi risiko tersebut, pengelolaan belanja negara harus dilakukan secara cermat. Pengetatan anggaran pada pos-pos non-prioritas menjadi instrumen penting untuk memelihara kepercayaan para pelaku pasar.

Kebijakan alokasi keuangan ke depan diarahkan untuk lebih selektif guna menjaga kredibilitas fiskal pemerintah di mata publik.

"Termasuk juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah. Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran, termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG," urainya.

Skenario Penyelamatan Lewat Sektor Pariwisata dan Remitansi

Menutup pemaparannya, para sekuritas ekonomi istana ini menawarkan peta jalan penguatan cadangan devisa melalui akselerasi sektor penunjang non-migas.

Pemerintah didorong untuk memperbanyak masuknya pelancong internasional serta memaksimalkan potensi pendapatan dari tenaga kerja terampil di luar negeri.

"Memang kita perlu waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global. Dampak perang ini sepertinya lebih tinggi, lebih lama dari perkiraan kita. Kemudian ada faktor pelemahan rupiah," kata Firman Hidayat yang kemudian menambahkan, "Kalau kita bisa meningkatkan wisman lebih tinggi dalam waktu ke depan ini, ini tentu akan bisa membantu meningkatkan devisa kita." ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Nasional
wwwwww