Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
20 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
14 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
14 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
4
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
14 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
15 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
14 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Kesepakatan Damai AS Iran

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Kesepakatan Damai AS Iran
Amerika Serikat (AS) dan Iran mengatakan telah mencapai kesepakatan sementara. Keduanya juga sepakat akan menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. (Ilustrasi: nktv.in)
Senin, 15 Juni 2026 14:13 WIB

JAKARTA – Pasar energi global langsung bergerak merespons pengumuman kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan perang. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang dijadwalkan pasca penandatanganan resmi.

Laporan Bloomberg, Senin (15/6/2026) menyebutkan para pejabat kedua negara akan menggelar pertemuan di Swiss, Jumat (19/6/2026). Sentimen positif ini langsung menekan harga minyak mentah jenis Brent yang merosot lebih dari 4 persen menuju US$83 per barel, mencatat level terendah dalam waktu lebih dari tiga bulan terakhir. Selain itu, nilai transaksi saham berjangka di AS menguat, sementara dolar AS bergerak melemah terhadap mata uang negara-negara maju (G10).

Respons Pelaku Pasar dan Analisis Investasi

Kondisi ini menjadi angin segar setelah sebelumnya ratusan kapal terjebak di kedua sisi selat dan memicu lonjakan inflasi. Meski pasar merespons positif, rincian naskah resmi kesepakatan ini belum diterbitkan karena poin-poin krusial masih akan digodok pada tahapan berikutnya.

Analis utama untuk Asia Pasifik dan Timur Tengah di eToro Ltd, Josh Gilbert mengingatkan pasar untuk tidak gegabah.

"Ini masih merupakan langkah awal yang penuh harapan, bukan sebuah kepastian. Kekhawatiran tidak akan sepenuhnya hilang sampai perjanjian resmi ditandatangani, artinya para pelaku investasi (investor) tetap harus berhati-hati," jelas Josh Gilbert.

Komitmen Politik dan Insentif Finansial

Langkah damai ini diumumkan pertama kali oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, disusul oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump dan media pemerintah Iran. Trump mengonfirmasi lewat media sosialnya bahwa pembukaan selat pada Jumat (19/6/2026) akan dilakukan segera setelah pembersihan ranjau laut rampung.

Sebelumnya, Sabtu (13/6/2026), Trump sempat menargetkan kesepakatan rampung Minggu (14/6/2026) sebagai kado ulang tahunnya yang ke-80. Trump menyatakan, "Kesepakatan hebat ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh wilayah."

Bagi Trump, kesepakatan ini sangat krusial untuk menekan inflasi jelang pemilihan umum paruh waktu, November mendatang, mengingat jajak pendapat menunjukkan warga Amerika menolak perang. Walau demikian, dalam wawancara dengan The New York Times, Minggu, Trump mengancam akan kembali menggunakan opsi militer jika negosiasi nuklir Iran mandek.

Di sisi lain, televisi pemerintah Iran menyebut momentum ini sebagai kemenangan strategis mereka.

"Iran secara resmi memaksa musuh AS-Israel untuk mengakhiri perang di semua medan tempur," ungkap laporan media tersebut.

Skema Kompensasi dan Regulasi Selat

Perjanjian ini membuka ruang negosiasi selama 60 hari ke depan. Iran menuntut penghapusan total sanksi primer dan sekunder, serta pembatalan hukum internasional yang menjerat mereka. Namun, klausul ini harus melewati persetujuan Kongres AS yang diprediksi mendapat tentangan dari faksi garis keras anti-Iran.

Terkait insentif, seorang pejabat tinggi AS membocorkan bahwa kedua negara tengah menyusun sistem imbalan ekonomi yang cair berdasarkan kepatuhan Iran terhadap tuntutan AS. Dana bantuan tersebut juga diproyeksikan mengalir sebagai modal membangun kembali infrastruktur Iran yang hancur dibom oleh militer AS dan Israel di ribuan titik lokasi. Sementara untuk operasional Selat Hormuz, pihak Teheran menegaskan lalu lintas kapal nantinya akan berada di bawah kendali bersama antara Iran dan Oman.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Metropolitan, Basket, DKI Jakarta
wwwwww