Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
17 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
18 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
18 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
18 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
17 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
8 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Olympic

Maraknya Kekerasan Remaja Perkotaan Jadi Sinyal Darurat Perlindungan Generasi Muda

Maraknya Kekerasan Remaja Perkotaan Jadi Sinyal Darurat Perlindungan Generasi Muda
Ilustrasi (net)
Selasa, 16 Juni 2026 17:31 WIB

JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, memberikan sorotan tajam terhadap maraknya kasus kekerasan yang menimpa anak dan remaja di berbagai kota besar. Kejadian tragis persekusi terhadap seorang bocah berusia enam tahun di Kramat, Jakarta Pusat, dinilai bukan sekadar kenakalan biasa melainkan tindak pidana yang membutuhkan intervensi serius dari negara.

Tindakan bullying yang berujung pada luka berat hingga trauma mendalam harus disikapi dengan penegakan hukum dan aturan khusus dari pemerintah daerah.

"Bullying yang dibiarkan akan tumbuh menjadi kekerasan. Kekerasan yang dibiarkan akan melahirkan korban berikutnya. Karena itu negara tidak boleh hadir hanya setelah ada korban," tegas Dini dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Keprihatinan mendalam disampaikan mengingat dalam waktu berdekatan publik juga dikejutkan oleh insiden pengeroyokan remaja di Surabaya yang berakhir dengan hilangnya nyawa. Kondisi ini mencerminkan kegagalan menciptakan lingkungan aman bagi generasi penerus, terutama di kawasan perkotaan yang seharusnya memiliki akses pendidikan dan fasilitas publik lebih memadai.

"Kita sering bangga membangun kota yang modern, tetapi jangan sampai lupa membangun manusianya. Percuma gedung semakin tinggi jika rasa kemanusiaan justru semakin rendah," urainya.

Menyikapi darurat kekerasan tersebut, Dini mendorong penguatan sistem pencegahan yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari sekolah, keluarga, hingga lembaga perlindungan anak. Kasus-kasus kekerasan sering kali berakar dari pembiaran terhadap tindakan yang awalnya dianggap sepele. Pihaknya di DPR RI saat ini juga terus memperjuangkan alokasi anggaran yang memadai untuk program pendidikan karakter serta pendampingan psikologis korban.

Kasus perundungan yang memicu keprihatinan luas ini menimpa bocah berinisial MWP. Korban sempat tidak sadarkan diri setelah dianiaya oleh dua remaja berinisial LNG dan RVN, Minggu (7/6/2026).

Nenek korban, Linda Reselin, mengungkapkan bahwa cucunya harus mendapat perawatan intensif di RSCM akibat tersengat aliran listrik saat kejadian tersebut berlangsung di kawasan taman Kramat Pulo, Kecamatan Senen. Berdasarkan rekaman CCTV, korban diseret dan diarahkan ke sebuah tiang listrik yang ternyata mengalami kebocoran arus.

"Kalau sekarang cucu saya sudah sadar tapi dia masih takut kalau bertemu orang," ungkap Linda, Rabu (10/6/2026).***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Olympic, e-Sports, DKI Jakarta
wwwwww