Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
22 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
22 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
22 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
23 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
22 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
22 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Voli

Tito Karnavian Ungkap Fakta Baru Lahan di Perbatasan Malaysia

Tito Karnavian Ungkap Fakta Baru Lahan di Perbatasan Malaysia
Mendagri Tito Karnavian.
Senin, 29 Juni 2026 19:25 WIB

JAKARTA – Isu kehilangan dua desa di perbatasan Kalimantan Utara akhirnya dijawab oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR di Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026), Tito menegaskan bahwa wilayah Indonesia justru bertambah luas setelah dilakukan sinkronisasi perbatasan.

Tito menjelaskan bahwa meski ada 127 hektar lahan di dua desa yang masuk ke wilayah Malaysia, Indonesia mendapatkan kompensasi berupa 5.700 hektar lahan dari sisi Malaysia.

"Mohon kami klarifikasi dalam forum ini, karena jadi isu di publik seolah-olah kita kehilangan dua desa, padahal desanya tidak hilang, yang hilang ada sebagian tanahnya, tapi kita dapat lebih dari itu," papar Tito.

Masalah ini berakar dari batas wilayah peninggalan era Belanda dan Inggris yang membagi Pulau Sebatik serta wilayah sungai Sirapat dan Simatipal. Menurut Tito, ketidaksesuaian antara peta dan kondisi lapangan memicu tantangan besar di perbatasan.

"Yang sudah berkunjung pasti tahu bahwa lintas batas tidak jelas, tapal batas tidak jelas," ujarnya.

Dampak dari ketidakjelasan tapal batas ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan celah bagi aktivitas ilegal. Mantan Kapolri ini menyebutkan maraknya penyelundupan di wilayah tersebut.

"Crossing yang terjadi secara ilegal juga membuat dampak negatif ada human trafficking, drug trafficking, fire arms trafficking, kemudian penyelundupan, dan lain lain, terjadi di sana," tegasnya.

Tito juga memberikan contoh unik mengenai kondisi fisik perbatasan, di mana terdapat bangunan rumah yang posisi bagian depannya berada di Indonesia, sementara bagian belakangnya berada di wilayah Malaysia.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Voli, Basket
wwwwww