Batal Dibangun di Ibu Kota Nusantara Menteri Keuangan Sebut Kawasan Terlalu Sepi
![]() |
| Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. |
JAKARTA - Ambisi Indonesia untuk memiliki Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) semakin dekat seiring percepatan penyusunan landasan hukumnya. Proyek prestisius yang dirancang untuk menarik modal global ini rupanya tidak melirik Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai lokasi utamanya.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa secara terang-terangan menyebut kondisi IKN saat ini belum memungkinkan untuk menampung kawasan finansial raksasa tersebut akibat minimnya aktivitas penduduk.
"Sampai sekarang saya belum tahu. (IKN?) Mungkin nggak, terlalu sepi di IKN," tegasnya usai rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (2/7/2026).
Pemerintah kini memutar arah dan mencari titik kumpul paling menjanjikan bagi investor asing. Opsi paling potensial jatuh kepada Pulau Bali yang direncanakan akan memiliki beberapa kawasan khusus.
"Ini kan masih dibahas ya, ada alternatif ya mungkin beberapa di Bali. Tapi mungkin ada beberapa titik juga. Tapi yang jelas, kita akan cari tempat yang paling comfortable untuk internasional investor," paparnya.
Pembentukan International Financial Center (IFC) ini diproyeksikan mampu mendongkrak masuknya investasi ke Tanah Air. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menargetkan pencapaian yang bisa menyaingi dominasi Singapura.
"Ya Rp5.000 triliun itu, jadi dana masuk ke Singapura dulu baru disebar. Nah, sedangkan potensi investasi di Indonesia kan besar," tambahnya, Kamis (25/6/2026).
Langkah menggarap regulasi dan ekosistem infrastruktur di Bali dinilai krusial. Kehadiran pusat keuangan baru ini diharapkan dapat mengambil porsi dari aliran dana internasional yang selama ini hanya berputar di negara-negara tertentu.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Voli, Ekonomi, DKI Jakarta, Kalimantan Timur |













