Promovendus UI Nursilah Teliti Transformasi Estetika Reyog Ponorogo
![]() |
| Nursilah (berkebaya) saat promosi Doktoral Ilmu Pengetahuan Budaya di Auditorium Tjan Tjoe Son, Gedung Hoesein Djajadiningrat, Universitas Indonesia, Sabtu (4/7/2026). (Ist). |
Minggu, 05 Juli 2026 17:11 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Kesenian Reyog Ponorogo tidak lagi sekadar dipentaskan sebagai tradisi masyarakat, tetapi telah mengalami transformasi menjadi seni pertunjukan kompetitif yang dipengaruhi standar penilaian, inovasi artistik, hingga persaingan antarkelompok. Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian Doktoral Nursilah dari Program Studi Ilmu Susastra.
Dalam disertasinya yang berjudul Transformasi Estetika Seni Reyog Ponorogo dalam Proses Kreatif Tiga Grup Reyog di Arena Festival Nasional Reyog Ponorogo, Nursilah mengkaji perubahan estetika Reyog melalui tiga grup peserta Festival Nasional Reyog Ponorogo (FNRP), yakni Grup Gajah Manggolo, Grup Kawulo Bantarangin, dan Grup Bantarangin Jakarta pada periode 2015–2024.
Disertasi yang dibimbing Promotor Shuri Mariasih Gietty, S.Hum., M.A., Ph.D., serta Ko-promotor Dr. Turita Indah Setyani, S.S., M.Hum., dan Dr. M. Yoesoef, S.S., M.Hum., ini mengungkap bahwa pelembagaan Festival Nasional Reyog Ponorogo telah mendorong perubahan besar dalam proses kreatif para pelaku seni.
Penelitian tersebut bertujuan menganalisis transformasi estetika ketiga grup Reyog dalam kerangka performativitas seni sekaligus mengkaji bagaimana modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik dimanfaatkan untuk membangun strategi kreatif serta memperebutkan posisi dominan dalam arena festival.
Dalam promosi Doktoral Ilmu Pengetahuan Budaya di Auditorium Tjan Tjoe Som, Gedung Hoesein Djajadiningrat, Universitas Indonesia, Sabtu (4/7/2026), Nursilah memaparkan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif, penelitian dilakukan melalui observasi, analisis rekaman pertunjukan Festival Nasional Reyog Ponorogo edisi 2015–2024, wawancara mendalam dengan dewan juri, panitia, koreografer, dan pengurus paguyuban, serta studi dokumentasi berbagai literatur resmi festival.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi estetika Reyog diwujudkan melalui perpaduan teknik gerak, pengelolaan komposisi panggung prosenium yang lebih terstruktur, hingga perubahan desain dramatik, seperti penggunaan pola flashback. Seluruh perubahan tersebut merupakan respons para koreografer terhadap tuntutan durasi pertunjukan dan kriteria penilaian dalam kompetisi.
Penelitian ini juga menemukan bahwa Festival Nasional Reyog Ponorogo menjadi arena sosial yang memperlihatkan ketimpangan kepemilikan modal antarkelompok seni. Grup Bantarangin Jakarta dinilai mampu mendominasi melalui dukungan modal ekonomi yang besar sehingga menghadirkan pertunjukan dengan visual yang spektakuler.
Di sisi lain, Grup Gajah Manggolo mengandalkan modal budaya melalui sistem pendidikan yang menghasilkan disiplin teknik pertunjukan, sedangkan Grup Kawulo Bantarangin mempertahankan eksistensinya dengan mengedepankan nilai lokal, religiusitas, dan keaslian tradisi sebagai kekuatan utama meski memiliki keterbatasan finansial.
Menurut Nursilah, dominasi modal dalam arena festival turut memengaruhi perubahan habitus para pelaku Reyog.
"Spontanitas yang selama ini menjadi ciri pertunjukan tradisional perlahan menyesuaikan diri dengan tuntutan koreografi modern yang lebih terukur," kata Nursilah yang juga aktif sebagai Penasehat Komunitas Reyog Ponorogo (KRP), dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026).
Disertasi ini menyimpulkan bahwa transformasi estetika Reyog di panggung festival bukan semata-mata lahir dari kreativitas seniman, melainkan merupakan hasil negosiasi nilai, persaingan sosial, serta komodifikasi karya dalam upaya memperoleh pengakuan dan kekuasaan simbolik.
Sebagai kontribusi ilmiah, penelitian ini memperkenalkan konsep "Modal Rasa" sebagai pengembangan dari teori modal budaya Pierre Bourdieu. Konsep tersebut menjelaskan bahwa lokalitas, insting ketubuhan tradisi, dan autentisitas budaya tetap menjadi modal penting yang memiliki nilai tawar di tengah semakin kuatnya kapitalisasi dalam industri festival seni. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Umum |













