Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  KONI

Diversifikasi Utang, Menkeu Purbaya Sebut Panda Bond Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Diversifikasi Utang, Menkeu Purbaya Sebut Panda Bond Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Jum'at, 24 Juli 2026 11:51 WIB

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyiapkan strategi pembiayaan baru untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Strategi tersebut diwujudkan melalui penerbitan Panda Bond di pasar modal China dengan total nilai mencapai 7 miliar yuan atau setara Rp18,47 triliun.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa dana hasil penerbitan surat utang tersebut langsung dialokasikan untuk kebutuhan anggaran negara.

"Itu untuk nutup defisit sebagian," ucapnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Langkah penerbitan obligasi global di pasar keuangan China ini bukan semata untuk mencari pendanaan segar. Purbaya menjelaskan, pemerintah berupaya memperluas basis investor sekaligus menekan ketergantungan negara terhadap instrumen berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).

"Ini diversifikasi sumber pendanaan kita. Sebelumnya kan lebih banyak global bond, dolar. Sekarang kita diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China," urainya.

Potensi pasar keuangan China dinilai sangat besar dengan kapasitas daya serap investor yang kuat. Ia menyoroti likuiditas domestik China yang melimpah, terlebih setelah porsi kepemilikan obligasi dolar AS oleh investor setempat terus mengalami penyusutan.

"Dulu mereka punya dolar denominated bond Amerika itu sampai 3 triliun dolar AS. Sekarang sudah turun signifikan. Jadi daya serap di sana masih amat kuat," paparnya.

Perkuat Stabilitas Rupiah

Di samping ketahanan fiskal, penerbitan Panda Bond menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini didukung oleh mekanisme Local Currency Transaction (LCT) yang memungkinkan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang yuan dan rupiah.

"Nanti mereka bayar yuan, saya terima rupiah di sini. Antarbank sama bank sentral. Secara de facto seolah-olah reserve kita naik 50 miliar dolar AS, dan rupiah akan menguat," jelas Purbaya.

Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memaksimalkan berbagai instrumen penopang untuk mengamankan daya tahan mata uang domestik. Penawaran awal Panda Bond senilai 1 miliar dolar AS pun telah mendapat respons positif. Apalagi, instrumen ini mendapatkan predikat kredit tertinggi, yakni AAA, dari lembaga pemeringkat lokal di China.

"Bagus, tapi saya belum tahu hasil akhirnya seperti apa. Besok kalau tidak salah closing book-nya. Yang jelas kita triple A rating-nya, ada suratnya dari sana," tutupnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inews.id
Kategori:Voli, Metropolitan, KONI, DKI Jakarta
wwwwww