Pramono: Jangan Sampai Pagar Tinggi Bikin Jakarta Terlihat Tak Aman
![]() |
| Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. |
Senin, 03 Agustus 2026 17:21 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan, tidak menginginkan pusat perbelanjaan, kawasan properti, maupun perkantoran di Jakarta memasang pagar besi yang terlalu tinggi.
Menurutnya, keberadaan pagar berlebihan dapat memunculkan persepsi negatif seolah-olah kondisi keamanan Ibu Kota sedang memburuk.
Pram mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan segera berkoordinasi dengan jajaran terkait untuk menata dan menertibkan pemasangan pagar yang dinilai terlalu tinggi di sejumlah lokasi.
"Saya mengikuti dengan saksama adanya pemasangan di beberapa tempat pagar-pagar yang kemudian menjadi sangat tinggi sekali. Secara pribadi sebagai Gubernur Jakarta, saya tetap berkeinginan apa pun Jakarta itu aman dan nyaman. Bagi pelaku bisnis, termasuk pemilik mal, properti, perkantoran, dan sebagainya, tidak perlu kemudian harus memasang pagar yang berlebihan," kata Pram, dikutip Senin (3/8/2026).
Ia menilai, pemasangan pagar yang berlebihan berpotensi membentuk citra bahwa Jakarta berada dalam kondisi yang tidak aman. Karena itu, Pemprov DKI akan mengambil langkah penertiban agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
"Saya akan segera mengoordinasikan untuk menertibkan itu. Sebab, jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja," ujarnya.
Pram menegaskan, berdasarkan hasil koordinasinya dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum, situasi keamanan di Jakarta hingga saat ini tetap kondusif.
"Menurut saya, sebagai Gubernur Jakarta, dan saya melakukan koordinasi dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum di berbagai sektor, saya meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja," tuturnya.
Meski belum terdapat aturan yang secara khusus melarang pemasangan pagar tinggi pada bangunan komersial, Pramono menilai pembangunan kota seharusnya mengedepankan keterbukaan ruang, estetika, dan kenyamanan publik.
"Untuk larangan itu terus terang memang tidak secara spesifik. Tetapi dengan membuat pagar yang berlebihan, itu mengganggu kenyamanan. Jakarta yang sekarang ini menurut saya harusnya bisa lebih baik," ucapnya.
Sebagai alternatif, Pram mendorong pengelola kawasan komersial memperbanyak ruang terbuka hijau dan pepohonan dibandingkan membangun pagar tinggi.
"Saya berpikir pagarnya itu enggak perlu tinggi-tinggi. Kemudian yang penting pohonnya yang banyak, lebih hijau. Antara satu dengan yang bersebelahan juga mungkin lebih baik dibuka. Sehingga kami akan segera memutuskan untuk itu, untuk Jakarta," ungkapnya.
Ia menegaskan kebijakan tersebut hanya akan diterapkan di wilayah Jakarta.
"Kalau untuk daerah lain saya enggak mau ikut campur. Tapi untuk Jakarta saya berkeinginan betul bahwa masyarakat semuanya merasa aman dan nyaman," jelasnya.
Belakangan ini, pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter di sejumlah pusat perbelanjaan menjadi perhatian publik dan memicu berbagai spekulasi di media sosial. Beberapa mal yang ramai diperbincangkan antara lain Pakuwon Mall Surabaya, Tunjungan Plaza, Royal Plaza, Pakuwon City Mall, serta Kota Kasablanka di Jakarta.
Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, manajemen Pakuwon Group menegaskan bahwa pemasangan pagar bukan berkaitan dengan isu gejolak sosial maupun perlambatan ekonomi. Pagar dipasang sebagai bagian dari peningkatan sistem keamanan pengunjung, pengaturan akses keluar-masuk, mitigasi risiko kecelakaan pada area yang berbatasan langsung dengan jalan raya, serta program peremajaan aset di sejumlah pusat perbelanjaan. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













