Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
10 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Badminton

Jakarta Kejar Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 30 Persen pada 2030

Jakarta Kejar Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 30 Persen pada 2030
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (Ist).
Kamis, 20 Agustus 2026 17:35 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030 sebagai bagian dari upaya mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2050.

‎Sektor transportasi menjadi salah satu fokus utama karena menyumbang 52 persen dari total emisi langsung di Ibu Kota.

‎
‎Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, target tersebut ditempuh melalui transformasi sistem mobilitas Jakarta menuju transportasi rendah karbon. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 di The Tribrata Hotel and Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
‎
‎"Jakarta butuh sistem mobilitas yang dapat memperluas akses, meningkatkan produktivitas, menurunkan emisi, dan menghubungkan kawasan metropolitan sebagai satu kesatuan ekonomi. Arah ini menjadi dasar low-carbon mobility transformation yang sedang kami bangun," kata Pram.
‎
‎Menurut dia, tingginya emisi dari sektor transportasi tidak terlepas dari ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap emisi, tetapi juga memicu kemacetan dan menurunkan kualitas udara, produktivitas, efisiensi, kualitas hidup, hingga daya saing kota.
‎
‎Pram menyatakan, Pemprov DKI telah menetapkan arah menuju NZE 2050 melalui peta jalan dekarbonisasi. Khusus sektor transportasi, Jakarta menargetkan porsi penggunaan transportasi publik mencapai 55 persen pada 2045.
‎
‎Target tersebut ditempuh melalui dua pendekatan, yakni Pull Strategy dan Push Strategy. Strategi pertama diarahkan untuk meningkatkan kualitas sekaligus daya tarik transportasi publik agar masyarakat bersedia beralih dari kendaraan pribadi.
‎
‎"Pull Strategy diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan daya tarik transportasi publik. Langkah tersebut dilakukan melalui ekspansi rute Transjabodetabek, MRT dan LRT, transportasi gratis bagi 15 golongan masyarakat, pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) dan Park and Ride, serta peningkatan fasilitas pedestrian, jalur sepeda, dan transportasi air," jelas Pram.
‎
‎Sementara itu, Push Strategy diarahkan untuk mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi. Sejumlah kebijakan yang diterapkan meliputi sistem ganjil-genap, disinsentif parkir bagi kendaraan yang tidak lulus uji emisi, Low Emission Zone (LEZ), hingga Electronic Road Pricing (ERP).
‎
‎Pemprov DKI juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui gerakan Rabu Naik Angkutan Umum dan Jumat Hari Bersepeda bagi aparatur sipil negara (ASN) Jakarta.
‎
‎Di sisi lain, percepatan dekarbonisasi dilakukan melalui elektrifikasi transportasi publik. Saat ini, Jakarta telah memiliki 500 bus listrik. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 10.047 bus listrik pada 2030 atau mencakup seluruh armada TransJakarta.
‎
‎Selain elektrifikasi bus, perluasan jaringan transportasi publik terus dilakukan. LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai ditargetkan mulai beroperasi pada Agustus 2026. Sementara MRT Jakarta Fase 2A ditargetkan mencapai Monas pada 2027 dan berlanjut hingga Kota pada 2029.
‎
‎Pengembangan jaringan tersebut juga diintegrasikan dengan kawasan berbasis TOD, di antaranya Blok M Hub dan Dukuh Atas. Konsep ini diharapkan memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
‎
‎Transformasi transportasi Jakarta juga ditopang pemanfaatan teknologi dan data. Penerapan Intelligent Transportation Systems (ITS) digunakan untuk membantu pengelolaan lalu lintas secara lebih cerdas dan tepat sasaran.
‎
‎"Intervensi ITS telah berkontribusi terhadap pengurangan lebih dari 8,7 juta ton CO₂e," kata Pram.
‎
‎Jakarta turut memperkuat konsep smart mobility melalui integrasi pembayaran digital dan pengembangan jaringan pengumpan Mikrotrans. Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat konektivitas first mile dan last mile sehingga perjalanan masyarakat menggunakan transportasi publik menjadi lebih mudah dan terintegrasi.
‎
‎Pram menegaskan, dekarbonisasi transportasi bukan semata-mata agenda lingkungan. Menurutnya, transformasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kota yang berkelanjutan.
‎
‎Karena itu, pencapaian target penurunan emisi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
‎
‎"Melalui IITS 2026, Jakarta hadir sebagai living laboratory yang terus belajar dari kebijakan, inovasi, dan tantangan yang kami hadapi. Kami siap berbagi pengalaman dan membangun kemitraan bersama kota-kota lain," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww