Bayang-bayang Mesin Pintar di Kantor Pemerintahan, Benarkah ASN Riau akan Terpinggirkan?
![]() |
| Menteri PAN-RB Rini Widyantini (foto: kemenpan-rb) |
Skenario pergeseran budaya kerja ini bukanlah fiksi, melainkan realitas yang tengah dibahas serius di Senayan. Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf sempat memantik diskusi hangat saat mengevaluasi kinerja birokrasi pada Senin (24/8/2026). Ia menggambarkan bagaimana sebuah presentasi yang tadinya memakan tenaga tiga orang, kini bisa diselesaikan sekejap oleh sistem.
"Padahal sebagaimana kita ketahui dengan adanya digitalisasi dan lain-lain, mungkin itu mestinya tidak perlu sampai puluhan orang. Mungkin cukup 15 sampai 20 orang," cetusnya menggambarkan kondisi instansi di tingkat kecamatan.
Ruang Baru Tanpa Kehilangan Empati
Wacana efisiensi yang seolah mengancam keberadaan aparatur sipil negara (ASN) tersebut langsung diredam oleh pemerintah pusat. Menteri PANRB Rini Widyantini, Rabu (26/8/2026), meredam isu pengurangan pegawai secara massal dengan sudut pandang yang lebih membumi.
Mesin pintar, menurut Rini, memang didesain untuk mengambil alih pekerjaan administratif yang monoton dan berulang. Namun, tujuannya bukan untuk memecat manusia, melainkan membebaskan mereka dari jebakan rutinitas agar bisa benar-benar hadir melayani masyarakat.
"Pemanfaatan AI harus didahului peningkatan kompetensi ASN dan berjalan bersama transformasi digital pemerintah," paparnya.
Ia menggarisbawahi bahwa di balik kecepatan sistem meramu jutaan data, tetap dibutuhkan sosok manusia yang bisa memahami penderitaan warga, memberikan pertimbangan hukum yang adil, serta mengambil keputusan yang bijak. Mesin tidak memiliki empati, dan di sanalah peran ASN sejatinya diuji. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Nasional |













