Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
17 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
17 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
16 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
16 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
17 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
16 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Basket

Ketegangan Baru di Panggung Global, Saat Beijing Tantang Balik Manuver Isolasi Ekonomi AS

Ketegangan Baru di Panggung Global, Saat Beijing Tantang Balik Manuver Isolasi Ekonomi AS
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian. (foto: antara/desca lidya natalia)
Rabu, 26 Agustus 2026 09:13 WIB
JAKARTA - Bayang-bayang perang ekonomi berskala global kembali memanas menjelang lawatan Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih bulan depan. Kali ini, titik ledaknya bukan sekadar perebutan dominasi pasar, melainkan kampanye agresif Amerika Serikat yang berusaha memutus total urat nadi perekonomian Iran beserta para mitranya.

Gebrakan bertajuk Operation Economic Outcast tersebut diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada Kamis (20/8/2026). Langkah drastis ini diambil di tengah upaya negosiasi alot untuk mengakhiri konflik yang telah berkecamuk hampir setengah tahun terakhir. Imbasnya, seluruh negara yang masih berbisnis dengan Teheran—termasuk China—kini berada di bawah bayang-bayang sanksi sekunder Washington.

Bentrokan Kepentingan Washington dan Beijing

Tensi kian meruncing saat Menteri Keuangan AS Scott Bessent memaksa para pemimpin dunia untuk memilih dua kubu ekstrem: kemakmuran bersama Amerika Serikat, atau kehancuran dan teror bersama Iran. Sebanyak 60 individu, entitas, dan kapal dari berbagai belahan dunia langsung dijatuhi sanksi karena diduga kuat membantu Iran mengelola pendapatan minyak hingga teknologi nuklir.

"Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan menuai manfaat dari kemitraan kami," papar Bessent pada konferensi pers, Senin (24/8/2026). Ia menyebut lima sektor seperti emas, aset digital, penerbangan, teknologi, dan pelayaran kini masuk dalam radar pengawasan ketat AS.

Bagi Beijing, ultimatum tersebut dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian, pada Selasa (25/8/2026), secara terang-terangan menolak tunduk pada aturan sepihak Washington. Menurutnya, perdagangan antara China dan Iran murni berjalan di atas rel hukum internasional yang sah.

Bukannya meredakan konflik, otoritas China memandang hukuman ekonomi sepihak yang tidak direstui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) justru menyulut kekacauan baru di rantai pasok global.

"Sebaliknya, sanksi ekonomi hanya akan memicu ketegangan dan menyebabkan risiko meluas, yang akan mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan global," urai Lin Jian di hadapan awak media. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:inilah.com
Kategori:Basket
wwwwww