Mengurai Benang Kusut Defisit Transaksi Berjalan, Alarm Bahaya Nilai Tukar Rupiah Kembali Berbunyi
![]() |
| Antri BBM subsidi. (ilustrasi: hermanto ansam/gonews.co/gemini ai) |
JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali membayangi perekonomian nasional setelah laporan kuartal II-2026 menunjukkan pelebaran defisit transaksi berjalan yang menembus angka US$12,5 miliar. Kondisi yang menyentuh 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) ini menciptakan atmosfer dilematis bagi pemerintah dalam menentukan langkah penyelamatan keuangan negara tahun depan.
Beban berat ini memaksa pemerintah menavigasi kebijakan di antara dua jurang yang sama berbahayanya: mencari utang valuta asing (valas) baru di tengah tumpukan kewajiban yang ada, atau mengetatkan ikat pinggang dengan memangkas kuota subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi masyarakat.
Pilihan Sulit di Atas Kertas
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memandang situasi ini sebagai konsekuensi logis dari melandainya surplus dagang nonmigas. Ia menyebut ketergantungan pada surat utang global, seperti penerbitan Panda Bond di pasar Tiongkok, merupakan langkah reaktif yang patut dihitung ulang risikonya.
"Utang melalui penerbitan obligasi di Tiongkok belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional di dalam negeri. Karena utang jatuh tempo jumlahnya sudah besar sekali," ungkapnya, Selasa (25/8/2026).
Ibrahim membeberkan fakta bahwa tahun ini saja pemerintah harus menghadapi kewajiban utang jatuh tempo sebesar Rp900 triliun. Upaya menambal lubang defisit melalui instrumen utang mengharuskan negara mencari dana minimal tiga kali lipat dari jumlah sebelumnya, yang justru berpotensi membebani postur anggaran jangka panjang.
Bayang-bayang Pengetatan Biosolar dan Pertalite
Langkah alternatif yang disiapkan melalui RAPBN 2027 pun tak kalah berisiko. Dengan patokan harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$75 per barel, pemerintah merencanakan penyusutan alokasi BBM bersubsidi secara masif. Dari 48,43 juta kiloliter pada tahun 2026, kuota BBM jenis tertentu akan dipangkas menjadi 20,09 juta kiloliter pada 2027, yang berarti terjadi pemotongan hingga 58,51 persen.
"Ini tentunya ada risiko. Kalau pemerintah menghilangkan subsidi untuk BBM, dikhawatirkan berdampak kepada stabilitas nasional," keluhnya menyoroti potensi gejolak sosial.
Meski mencetak rekor defisit terburuk sejak kuartal I-2004, melampaui catatan US$10,1 miliar pada kuartal II-2013, Bank Indonesia (BI) tetap memancarkan sinyal optimisme. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menilai fenomena ini lebih bersifat temporer.
"Defisit transaksi berjalan diperkirakan lebih rendah, didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia," paparnya di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Sebagai langkah stabilisasi, BI diprediksi akan tetap menahan BI-Rate di level 6,25 persen, sembari bersandar pada cadangan devisa sebesar US$145,6 miliar yang diyakini cukup tangguh menahan guncangan eksternal dalam lima bulan ke depan. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Nasional |













