Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
23 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
24 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
23 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
23 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
6
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
22 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Implementasi B50 Capai 80 Persen, Kementerian ESDM Rutinkan Pengawasan

Implementasi B50 Capai 80 Persen, Kementerian ESDM Rutinkan Pengawasan
Ilustrasi biodiesel B50. (foto: dokumen Kementerian ESDM)
Selasa, 01 September 2026 12:31 WIB

JAKARTA - Penyaluran bahan bakar nabati jenis biodiesel 50 persen (B50) di tingkat nasional mencatatkan progres signifikan. Hingga akhir Agustus 2026, tingkat distribusi komoditas energi ini telah mencapai kisaran 75 hingga 80 persen.

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengonfirmasi capaian tersebut usai menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

"Posisinya itu antara 75-80 persen kalau total penyaluran, ya. Tetapi Pertamina sudah 90 persen," terangnya mengutip laporan Antara.

Fokus Pengawasan Berkelanjutan

Menyongsong target penyaluran 100 persen pada 1 Oktober 2026, pemerintah berkomitmen memperbanyak kegiatan pemantauan dan evaluasi. Langkah ini diambil agar eksekusi program mandatori berjalan cermat dan tepat sasaran di seluruh fasilitas penyalur.

"Jadi, kami lihat nanti sebulan lagi. Terus kami tetap melakukan pengawasan," tambahnya.

Keuntungan Ekonomi dan Lingkungan

Indonesia resmi mengimplementasikan B50 sejak Juli 2026, menjadikannya negara pertama yang menerapkan pencampuran solar dengan bahan bakar nabati hingga setengah porsi. Program ini dirancang untuk mewujudkan ketahanan energi nasional sekaligus menurunkan emisi karbon.

Kementerian ESDM memproyeksikan penggunaan B50 mampu menekan emisi gas rumah kaca sebesar 44,46 juta ton CO2 ekuivalen pada tahun 2026. Kebijakan ini juga diklaim mampu menyerap 2,1 juta tenaga kerja serta memberikan penghematan devisa negara mencapai Rp170 triliun seiring peningkatan nilai tambah minyak kelapa sawit domestik. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Ekonomi
wwwwww