23 Konsesi Sawit Terseret Karhutla Jambi, Luas Lahan Terbakar Melonjak
![]() |
| Lokasi kebakaran hutan (net) |
JAKARTA - Insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membedah persoalan tata kelola lingkungan di Provinsi Jambi. Analisis dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) mengindikasikan adanya korelasi langsung antara masifnya penyebaran titik api dengan aktivitas manusia, terutama kegiatan pembukaan area perkebunan kelapa sawit.
Rincian Lonjakan Area Terbakar
Tim sistem informasi geografis (GIS) KKI Warsi membeberkan temuan berbasis pencitraan satelit Sentinel-2 yang ditarik hingga Kamis (3/9/2026). Data tersebut merekam hamparan lahan yang hangus terbakar di Jambi telah menembus angka lebih dari 10 ribu hektare.
Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf menerangkan tingkat perluasan luasan karhutla melonjak hampir seratus persen atau dua kali lipat dibandingkan periode analisis minggu sebelumnya. Rentetan kebakaran ini menyasar ekosistem gambut serta area berstruktur tanah mineral di sembilan batas administratif kabupaten dan kota.
Tiga wilayah dengan rekor luasan lahan terbakar tertinggi dipimpin oleh Kabupaten Sarolangun (2.984 hektare), lalu diikuti Kabupaten Tebo (2.464 hektare), dan Kabupaten Batang Hari (2.338 hektare).
Singgungan dengan Peta Perizinan Berusaha
Penyelidikan KKI lebih lanjut dengan menumpangsusunkan sebaran api dan peta perizinan menemukan fakta bahwa rentetan kebakaran ini melibatkan bentang lahan di 23 perkebunan kelapa sawit serta 11 entitas Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Apabila diklasifikasikan berdasarkan fungsi kawasannya, area hutan produksi menempati peringkat teratas kawasan yang terbakar dengan luas mencapai 4.534 hektare. Peringkat berikutnya ditempati oleh area hutan produksi terbatas seluas 2.960 hektare dan kawasan areal penggunaan lain seluas 2.144 hektare. Tidak luput dari rambatan api, kawasan gambut seluas 1.344 hektare turut hangus, dengan rincian 87 hektare di antaranya bertengger di atas lahan gambut berkedalaman lebih dari tiga meter.
Risiko Tinggi Praktik Pembukaan Lahan
Kondisi tersebut kian rentan akibat pengeringan gambut yang menguras kandungan air tanah secara ekstrem. Situasi ini mengubah cadangan organik gambut menjadi material yang amat peka terhadap percikan api.
"Dalam kondisi lahan yang sangat kering, api yang digunakan dalam proses pembukaan lahan berpotensi sulit dikendalikan dan kemudian merembet ke areal di sekitarnya," papar Rudi memberikan keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2026).
Api yang menyentuh kawasan gambut mampu bergerak merambat lambat di bawah permukaan, sehingga sering luput dari pandangan awal dan membutuhkan strategi pemadaman yang kompleks. Merujuk peringatan BMKG terkait puncak musim kemarau di Jambi yang diprediksi berlangsung merata hingga September, risiko eskalasi karhutla diestimasikan tetap pada level siaga.
"Kondisi lahan yang semakin kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan api berpotensi cepat meluas," tegasnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | e-Sports, DKI Jakarta |













