Imigrasi Jakbar Kembali Jadi Sorotan Karena 125 Paspor Ludes
![]() |
| Imigrasi membuka layanan Pasporia di CFD Sudirman, Jakarta Barat. (Ist) |
Penulis: Bimo Putro Prihandoko
Warga menggeruduk unit pelayanan Pasporia yang dibuka dekat Halte Dukuh Atas TransJakarta. Hasilnya cukup mencolok. Sebanyak 125 kuota permohonan paspor ludes terlayani dalam waktu kurang dari dua jam.
Angka tersebut meningkat 25 persen dibanding capaian sebelumnya yang berada di angka 100 pemohon dalam waktu sekitar satu jam 30 menit.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non TPI Jakarta Barat Rakha Sukma Purnama bahkan terlihat turun langsung di tengah proses pelayanan.
Ia tidak hanya memantau dari balik meja pimpinan, tetapi ikut berinteraksi dengan pemohon, memberikan informasi, serta memastikan tahapan pelayanan berjalan sesuai prosedur.
“Kami ingin memastikan bahwa pelayanan yang diberikan benar-benar dirasakan masyarakat. Pasporia ini bukan hanya tentang berapa banyak pemohon yang bisa kami layani, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan yang mudah, cepat, jelas, dan nyaman,” ujar Rakha kepada wartawan di lokasi.
Menurut dia, pola pelayanan yang mendatangi ruang publik merupakan bagian dari transformasi pelayanan keimigrasian agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Ruang publik seperti CFD dinilai menjadi titik strategis karena masyarakat datang dari berbagai latar belakang, termasuk kelompok pekerja yang sulit menyempatkan diri datang ke kantor imigrasi pada hari kerja.
“Kami terus mengevaluasi pelayanan di lapangan. Kalau masyarakat membutuhkan layanan yang lebih dekat dan fleksibel, kami harus mampu beradaptasi. Prinsipnya, pelayanan publik harus hadir mengikuti kebutuhan masyarakat,” katanya.
Kehadiran Pasporia CFD juga memperlihatkan perubahan cara pandang pelayanan keimigrasian. Masyarakat tidak harus selalu datang ke kantor imigrasi untuk mendapatkan akses informasi dan pelayanan.
"Sebaliknya, petugas hadir di tengah aktivitas masyarakat," ucapnya.
Konsep tersebut menjadi penting bagi Imigrasi Jakarta Barat dalam membangun kembali kepercayaan publik setelah institusi tersebut sempat menjadi sorotan terkait persoalan tata kelola dan proses hukum pada periode kepemimpinan sebelumnya.
Kini, pembenahan diarahkan pada penguatan pelayanan, keterbukaan informasi, inovasi, serta kedekatan petugas dengan masyarakat.
Rakha menilai perubahan citra institusi tidak cukup dilakukan melalui slogan. Perubahan harus terlihat dalam praktik pelayanan sehari-hari.
“Kepercayaan masyarakat tidak bisa dibangun hanya dengan kata-kata. Harus ada pembuktian melalui pelayanan. Kami ingin setiap inovasi yang dibuat benar-benar memberikan manfaat dan membuat masyarakat merasa dilayani dengan baik,” tutur Rakha.
Linda, salah seorang pemohon paspor mengaku sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut karena aktivitas pekerjaannya membuatnya sulit meluangkan waktu untuk datang ke kantor imigrasi pada hari kerja.
Perempuan yang bekerja sebagai profesional itu awalnya datang ke CFD untuk berolahraga. Namun, keberadaan layanan Pasporia membuat agenda paginya bertambah satu tujuan.
"Saya memang sehari-hari bekerja, jadi agak sulit mencari waktu untuk datang ke kantor imigrasi. Kebetulan ada Pasporia di CFD, jadi setelah olahraga saya sekalian mengurus paspor," ujar Linda.
Ia mengaku tidak menyangka proses pelayanan dapat berlangsung relatif singkat. Menurut Linda, sejak tahapan pendaftaran hingga proses pelayanan selesai, petugas memberikan penjelasan dengan cukup jelas sehingga dirinya tidak merasa kebingungan.
“Pelayanannya bagus dan di luar ekspektasi saya. Prosesnya juga tidak mengganggu jadwal olahraga karena semuanya cukup cepat. Jadi satu pagi bisa olahraga sekaligus mengurus paspor,” katanya.
Pengalaman Linda menjadi gambaran bahwa inovasi pelayanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang rumit.
Program Pasporia juga menjadi bagian dari semangat “Sunday Vibes”, ketika jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jakarta bersama Imigrasi Jakarta Barat hadir di ruang publik untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Selain layanan paspor, kegiatan tersebut turut menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis dari Klinik Rudenim. Bagi Imigrasi Jakarta Barat, Pasporia menjadi ruang untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat sekaligus mengukur kualitas pelayanan secara nyata.
Capaian 125 pemohon dalam waktu kurang dari dua jam akhirnya bukan hanya menjadi catatan angka. Di balik angka tersebut terdapat 125 warga yang mendapatkan kesempatan mengurus dokumen perjalanan di sela-sela aktivitas akhir pekan. ***
| Kategori | : | PON, Voli, DKI Jakarta |













