Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Olympic

'Tembak-Menembak Harus Dihentikan', Desak Peneliti BRIN Pascagugurnya Rombongan Dinas Pertanian

Tembak-Menembak Harus Dihentikan, Desak Peneliti BRIN Pascagugurnya Rombongan Dinas Pertanian
Koops TNI Habema saat mengevakuasi dua jenazah di Yahukimo, Papua, Kamis (23/7/2026).(Foto: Antara/Ho-Pen Koops Habema)
Minggu, 13 September 2026 16:27 WIB

JAKARTA - Gugurnya tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya kembali memperlihatkan tingginya risiko bagi warga sipil yang beraktivitas di Papua Pegunungan. Rentetan tembakan mengoyak rombongan delapan pengantar bantuan pangan yang tengah dalam perjalanan pulang dari Kampung Kimbim, Distrik Asologaima, menuju Jayawijaya, Rabu (9/9/2026). Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Meha (35), dan Willi Mbuik (25) meregang nyawa di Distrik Muliama setelah dicegat oleh terduga kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Merespons rentetan kekerasan yang tidak berkesudahan tersebut, Peneliti BRIN, Prof Cahyo Pamungkas memandang perlunya pergeseran paradigma dari orientasi keamanan negara menuju keamanan manusia. Strategi mengandalkan operasi bersenjata dianggap belum mampu memutus akar persoalan. Ia mengusulkan penerapan tahapan jeda kemanusiaan yang terukur, dimulai dari gencatan senjata sementara hingga dialog terbuka dengan para pelaku kekerasan.

"Cara yang lain saya kira ada juga dengan cara mencoba mengubah pendekatan keamanan negara menjadi keamanan manusia, mengedepankan pendekatan dialog dan persuasi, termasuk dengan kelompok-kelompok yang ingin merdeka," terang Cahyo, Sabtu (12/9/2026).

Skema resolusi yang melibatkan kelompok separatis pernah dijalankan dengan sukses oleh pemerintah saat berhadapan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Cahyo menuturkan bahwa dialog setara pada saat itu berhasil mengakhiri bentrokan fisik. Konsep serupa perlu diterapkan di Papua dengan melibatkan entitas sipil politik seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) beserta elemen gerakan bersenjata yang memiliki tuntutan berseberangan.

Hingga kini, proses hukum atas insiden di Muliama terus berjalan. Satgas Operasi Damai Cartenz telah menemukan proyektil kaliber 5,56 milimeter dan 9 milimeter yang diduga kuat berasal dari senjata para pelaku. Aparat keamanan juga tengah memburu para tersangka yang ciri-cirinya sudah teridentifikasi pascapenyerangan.

Tragedi berdarah ini turut menyita perhatian Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM). Desakan pengusutan secara transparan segera disuarakan demi memberikan keadilan bagi keluarga ketiga ASN yang tewas saat menjalankan tugas kemanusiaan tersebut.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Olympic, Voli, DKI Jakarta, Papua
wwwwww