Senator Dailami Firdaus Minta Abnon Jaga Marwah Betawi dan Islam
![]() |
| Senator DPD RI Dapil DKI Jakarta, Dailami Firdaus. (Ist) |
Senin, 21 September 2026 08:58 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta sekaligus anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi Dailami Firdaus meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan penyelenggara pemilihan Abang None (Abnon) Jakarta memperkuat representasi nilai dan jati diri Betawi dalam penyelenggaraan ajang tersebut.
Dailami mengatakan, ketika Abnon membawa nama dan budaya Betawi, representasi yang ditampilkan tidak cukup hanya melalui pakaian, kesenian, atau simbol budaya. Nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi juga perlu dipahami dan dihormati.
'Kalau kita membawa nama dan budaya Betawi, maka jati diri Betawi harus dihormati secara utuh. Jangan Betawi hanya ditampilkan melalui pakaian, kesenian, atau simbol-simbolnya, sementara nilai yang menjadi ruhnya justru ditinggalkan," kata Dailami, melalui keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).
Dailami memaparkan, budaya Betawi sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar, yakni agama, adab, dan adat. Ketiganya, tidak dapat dipisahkan dalam memahami identitas masyarakat Betawi.
Untuk itu, Dailami menyatakan sangat memahami kegelisahan yang disampaikan masyarakat dan sejumlah tokoh Betawi terkait penyelenggaraan Abnon Jakarta 2026.
Ia menekankan, persoalan tersebut menurut pandangannya bukan semata-mata mengenai siapa yang terpilih, melainkan bagaimana marwah dan jati diri Betawi tetap dijaga dalam ajang yang menjadi salah satu representasi Jakarta tersebut.
Dalam konteks tersebut, Dailami meminta adanya evaluasi terhadap konsep dan kriteria penyelenggaraan Abnon Jakarta, khususnya dalam aspek representasi budaya Betawi.
Ia mengusulkan tiga langkah konkret, yakni melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep dan kriteria Abnon, menetapkan standar representasi budaya Betawi yang berlandaskan agama, adab, dan adat, serta melibatkan ulama, tokoh adat, budayawan, dan lembaga kebetawian sejak tahap perencanaan hingga penilaian.
"Abnon jangan hanya beratribut Betawi, tetapi harus memahami, menghormati, dan mampu membawa nilai-nilai Betawi," tegasnya.
Dailami menjelaskan, upaya menjaga identitas Betawi perlu berjalan beriringan dengan transformasi Jakarta sebagai kota global. Keterbukaan dan modernisasi Jakarta tidak semestinya membuat akar budaya Betawi kehilangan tempat di daerah asalnya.
Ia menginginkan, penguatan nilai budaya tersebut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan Abnon pada masa mendatang. Sehingga peran Abnon tidak berhenti pada penggunaan atribut Betawi, tetapi juga tercermin dalam pemahaman terhadap sejarah, adat, budaya, dan nilai kehidupan masyarakat Betawi.
"Kita ingin Jakarta menjadi kota global, modern, dan terbuka. Tetapi menjadi global bukan berarti kehilangan akar. Agama dijaga, adab dijunjung, dan adat dilestarikan. Betawi jangan sampai kehilangan jati diri di tanahnya sendiri," pungkasnya.
Srbagai informasi, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) menyelenggarakan Pemilihan Abang None Jakarta 2026 sebagai ajang pencarian duta budaya dan pariwisata Jakarta.
Pemerintah menyebut penyelenggaraan tahun ini menjadi bagian dari persiapan menuju peringatan lima abad Jakarta pada 2027. Pada rangkaian pembekalan, materi yang diberikan kepada finalis juga mencakup kebudayaan Betawi.
Malam final Abang None Jakarta 2026 telah berlangsung di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (18/9). Pada kesempatan tersebut, Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan terpilih sebagai Abang Jakarta 2026, sedangkan Citra dari Jakarta Timur terpilih sebagai None Jakarta 2026. ***
| Kategori | : | Badminton, Nusantara, DKI Jakarta |












