Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
5 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
4 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
5 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
6
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Gagal di Final, Veddriq dan Adit Bawa Pelajaran Berharga dari Persaingan Ketat

Gagal di Final, Veddriq dan Adit Bawa Pelajaran Berharga dari Persaingan Ketat
Veddriq Leonardo dan Aditya Tri Syahrian. (Kemenpora)
Kamis, 01 Oktober 2026 22:08 WIB
Penulis: Azhari Nasution
AICHI - Persaingan nomor speed putra sport climbing Asian Games Aichi-Nagoya 2026 berlangsung ketat hingga babak akhir pada Kamis (1/10/2026). Dua climber Indonesia, Veddriq Leonardo dan Aditya Tri Syahrian telah memberikan penampilan terbaik dalam persaingan yang semakin merata di level Asia.

Pertandingan nomor speed yang mengandalkan kecepatan, presisi, dan konsistensi tersebut berlangsung di tengah persaingan tipis antarpemanjat. Setiap sepersekian detik menjadi sangat menentukan, membuat kesalahan kecil maupun momentum dalam satu pertandingan dapat memengaruhi hasil akhir.

Veddriq menilai persaingan yang dihadapi di Aichi-Nagoya menunjukkan perkembangan kompetisi speed di kawasan Asia yang semakin kompetitif. Menurutnya, persiapan Tim Indonesia telah dilakukan secara maksimal, termasuk melalui berbagai simulasi pertandingan dan latihan dengan catatan waktu terbaik.

“Iya, cukup ketat. Inilah speed, banyak faktor dan variabel yang menentukan hasil. Yang pasti, proses kami sudah maksimal. Latihan juga sudah kami lakukan beberapa kali, termasuk simulasi dengan catatan waktu terbaik,” kata Veddriq.

Veddriq yang merupakan peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 itu juga melihat perjalanan di Asian Games kali ini sebagai bagian dari proses menuju target yang lebih besar. Setelah menyelesaikan kompetisi di Aichi-Nagoya, fokus akan diarahkan pada peningkatan kemampuan dan persiapan menghadapi agenda internasional berikutnya.

“Persaingan sekarang juga sudah semakin merata, terutama di level Asia. Setelah Asian Games ini selesai, kami harus mencari fokus baru lagi. Selanjutnya tentu menuju target berikutnya, termasuk Olimpiade,” ujar Veddriq, atlet asal Pontianak, Kalimantan Barat itu.

Veddriq berharap pengalaman dari Asian Games Aichi-Nagoya dapat menjadi bahan evaluasi bagi Tim Indonesia untuk terus berkembang.

“Insyaallah, semoga Tim Indonesia semakin bisa meng-upgrade diri karena masih banyak hal yang perlu kami tingkatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Adit juga melihat ketatnya persaingan sebagai pengalaman penting dalam proses perkembangannya. Ia mengakui telah berusaha menjaga ketenangan dan kepercayaan diri sepanjang pertandingan, namun sebuah false start dalam hitungan sepersekian detik menjadi bagian dari evaluasi yang akan dibawanya ke depan.

“Benar kata Bang Veddriq, semua variabel dalam speed itu banyak sekali. Saya pikir tadi saya sudah berusaha untuk tetap tenang, percaya diri, dan yakin,” kata Adit yang tak mampu menutupi kekecewaannya.

Menurut Adit, apa yang terjadi di Asian Games 2026 ini justru menjadi pelajaran berharga, khususnya dalam mengelola diri ketika menghadapi tekanan pertandingan.

“Saya melakukan false start hanya dalam sepersekian detik. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk ke depannya agar bisa menjadi lebih baik lagi, terutama dalam hal pengelolaan diri,” ujar Adit yang melakoni debutnya.

Pengalaman di Aichi-Nagoya pun menjadi tambahan bekal bagi Adit untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Ia memastikan hasil kali ini akan menjadi dorongan untuk terus melakukan perbaikan.

“Tentu bakal menjadi lecutan. Tahun depan kami harus bisa lebih baik lagi,” pungkas Adit. ***

wwwwww