Usai Vakum Enam Tahun, Cut Tari Kembali Main Sinetron
![]() |
| Cut Tari. (Instagram) |
Penulis: Mambang Yazid
Bagi Cut Tari, kembalinya ke dunia sinetron bukan sekadar kesempatan untuk kembali berakting, tetapi juga memenuhi kerinduan yang telah lama ia pendam. Ia mengaku sudah cukup lama beristirahat dari berbagai kegiatan di industri hiburan, terutama sejak menikah untuk kedua kalinya.
"Balik lagi, ini kan pertama kali aku syuting stripping lagi ya setelah semenjak menikah yang kedua. Aku tuh memang rehat sekitar enam tahun lebih dari apa pun di entertainment," kata Cut Tari kepafa awak media dalam wawancara virtual, baru-baru ini.
Sebelum menerima proyek tersebut, Cut Tari juga telah mendapatkan izin dari suaminya, Richard Kevin. Ia mengaku senang bisa kembali bekerja, terlebih karena lingkungan kerja dan jadwal syuting yang dijalaninya terasa nyaman.
"Proyek ini sangat menyenangkan bersama orang-orang dan pemain yang sangat seru. Dan yang paling penting, jamnya juga sehat ya," ujarnya.
Salah satu hal yang membuat Cut Tari menikmati kembalinya ke dunia sinetron stripping adalah jadwal kerja yang dinilainya lebih bersahabat. Dengan waktu berangkat dan pulang yang relatif teratur, ia masih bisa menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu di rumah.
Baginya, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga menjadi pertimbangan penting setelah cukup lama vakum dari dunia hiburan.
"Pulangnya, perginya, lumayan sehat. Jadi masih ada waktu sama keluarga, masih ada waktu sama suami dan anak-anak. Itu yang bikin aku enggak kapok untuk stripping lagi," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Cut Tari merasa bisa kembali menekuni dunia akting tanpa harus kehilangan banyak waktu bersama orang-orang terdekatnya.
Sengaja Bikin Penonton Kesal Lewat Karakter Tamara
Jika sebelumnya penonton mengenal Cut Tari lewat beragam karakter, kali ini ia justru harus siap menerima kebencian dari pemirsa. Dalam Wajah Cinta yang Lain, Tamara digambarkan sebagai sosok antagonis yang tindakannya berpotensi membuat penonton geram.
Cut Tari menyadari karakter yang dimainkannya bukanlah sosok yang akan disukai penonton. Karena itu, ia justru menganggap reaksi negatif terhadap Tamara sebagai bagian dari konsekuensi pekerjaannya sebagai aktris.
"Pasti dibenci lah. Aku di sini antagonisnya bukan yang disukai orang. Gimana caranya orang tuh enggak suka, benci, dan gemas banget, pengin supaya nih orang cepat dapat karma," jelasnya.
Reaksi penonton rupanya mulai terasa setelah beberapa episode sinetron tersebut ditayangkan. Cut Tari mengaku kolom komentar dan notifikasi Instagram miliknya dipenuhi beragam tanggapan, mulai dari hujatan kepada Tamara hingga dukungan terhadap aktingnya.
"Biasanya aku kalau baca komen tuh isinya: 'Masukkan Tamara ke sel!', 'Inilah dalangnya!', 'Ayo bius dia, suntik dia!'. Jadi kalau ada yang memuji cantik, wah tumben banget," ungkapnya.
Alih-alih merasa terganggu, Cut Tari memahami bahwa komentar tersebut merupakan respons penonton terhadap karakter yang ia perankan. Bahkan, komentar yang meminta Tamara segera mendapat hukuman menunjukkan bahwa tokoh tersebut berhasil memancing emosi pemirsa.
Menurut Cut Tari, Cerita Butuh Tokoh Antagonis
Bagi Cut Tari, kehadiran tokoh antagonis merupakan bagian penting dalam membangun cerita, baik dalam sinetron, film, maupun serial web. Tanpa karakter yang menimbulkan konflik, sebuah cerita berisiko kehilangan daya tariknya.
Ia menilai tidak semua tokoh dalam sebuah cerita bisa digambarkan sebagai orang baik. Perbedaan karakter dan pertentangan kepentingan justru membuat alur cerita lebih menarik untuk diikuti.
"Antagonis itu kebutuhan suatu cerita. Kalau ada yang bilang 'Ih kamu jahat banget', ya masa semua pemain mau dibuat baik? Kalau semuanya baik—Asti baik, Bima baik, Ariana baik—terus kita nonton apaan kalau semuanya baik? Harus ada yang antagonis biar ceritanya seru," ujar Cut Tari.
Sinetron Wajah Cinta yang Lain yang tayang di SCTV turut dibintangi Dinda Kirana, Andi Mashadi, dan sejumlah pemain lainnya. Lewat karakter Tamara, Cut Tari kini kembali menyapa pemirsa sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan seorang aktor memerankan tokoh antagonis tidak selalu diukur dari seberapa besar karakter itu disukai, tetapi juga dari seberapa kuat ia mampu membangun emosi penonton. ***
| Kategori | : | Hiburan, DKI Jakarta |













