Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija

Benarkah Hidup Susah Sekarang?

Senin, 30 Juli 2018 22:31 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Benarkah Hidup Susah Sekarang?H Iqbal Ali
PERTANYAAN di atas banyak disebut-sebut saat ini, apakah ada kaitannya dengan tahun politik? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.

Mari kita jawab dengan akal sehat dimana perbedaan pendapat tentu boleh-boleh saja. Secara pengamatan dan kasat mata tanpa penelitian dan survey, menurut saya judul diatas jawabannya; Tidak Benar. Coba kita lihat keadaan masyarakat secara umum 15 atau 10 tahun terakhir.

Kita sebut saja indikatornya sebagai berikut. Diawali dengan berobat relatif murah (BPJS). Setiap desa di Indonesia sebagian besar sudah masuk listrik. Transportasi lancar dimana jalan hampir semua diaspal dan malah sudah banyak jalan tol. Di setiap rumah terutama di desa minimal ada 2 sepeda motor walaupun kredit. Pegawai negeri sipil golongan II saja sudah punya mobil. Di kantor-kantor pemerintah berjejer mobil pegawai (banyak yang mahal). Dulu belum punya TV sekarang ada yang 2 di rumahnya.

Dulu belum ada rumah murah, sekarang bak cendawan tumbuh untuk rakyat walaupun kredit. Dulu di desa belum mengenal AC, sekarang sudah banyak yang punya. Dulu belum mengenal bank sekarang berlangganan.

Dulu sering makan dengan pucuk ubi, petai, lontong, sekarang sudah bisa merasakan Pizza dan Burger. Dulu komunikasi belum secanggih sekarang, hitungan detik kita dapat mengetahui kondisi dunia dari rumah. Itulah contoh nikmat Allah dan banyak lagi yang seharusnya wajib kita syukuri.

Makanya sekali lagi judul diatas tidak benar. Yang mengatakan benar tentu banyak pula. Mudah-mudahan saja yang mengatakan benar bukanlah orang-orang masuk kelompok orang-orang: Malas, pilih-pilih kerja, ingin serba instan, suka main sogok.

Selanjutnya orang banyak anak (setiap tahun bertambah). Semakin besar keluarga sedangkan produktivitas tak bertambah, tentu berat menghadapi kehidupan. Yang mengatakan susah adalah orang-orang yang tak terbiasa mensyukuri nikmat Allah dan juga orang -orang pola hidupnya konsumtif (mengutamakan wants daripada needs).

Oleh sebab itu tidak elok jika selalu mengatakan hidup susah sekarang. Kalau kelompok oposisi diranah politik wajar mengatakan demikian, untuk mengambil simpati rakyat. Kita jangan lupa atau pura-pura tak tahu bahwa yang ikut mangganggu perekonomian negeri kita adalah berkeliarannya para koruptor, terutama didaerah-daerah (gubernur, bupati/walikota, kepala dinas dan seterusnya).

Mari kita renungkan dengan akal sehat, tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan, justru kita syukuri segala nikmat yang diberikan Allah dan berusaha terus meningkatkan kualitas diri sehingga mampu bersaing dengan orang lain. Bekerja, bekerja dan berdoa. ***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah pengamat sosial dan keagamaan.

Kategori:Ragam
wwwwww