Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wakil Ketua MPR: Mendikbud Buta Sejarah
Politik
22 jam yang lalu
Wakil Ketua MPR: Mendikbud Buta Sejarah
2
Ketua DPR Ingatkan KPU dan Bawaslu soal Aturan Protokol Kesehatan saat Kampanye Pilkada
DPR RI
21 jam yang lalu
Ketua DPR Ingatkan KPU dan Bawaslu soal Aturan Protokol Kesehatan saat Kampanye Pilkada
3
Oknum Polisi Perkosa Gadis Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Bukan Anggota Lapangan
Hukum
14 jam yang lalu
Oknum Polisi Perkosa Gadis Pelanggar Lalu Lintas, Kapolres: Bukan Anggota Lapangan
4
Puan Pastikan Omnibus Law Dibahas Transparan dan Hati-hati
DPR RI
21 jam yang lalu
Puan Pastikan Omnibus Law Dibahas Transparan dan Hati-hati
5
Tak Sesuai Undang-undang, Lelang Jabatan DPD RI Bermasalah
DPD RI
16 jam yang lalu
Tak Sesuai Undang-undang, Lelang Jabatan DPD RI Bermasalah
6
Tak Pakai Masker Diborgol, Warga ke Petugas: Saya Gak Kapok, Ingat Kalian Jangan Lupa Solat!
Peristiwa
14 jam yang lalu
Tak Pakai Masker Diborgol, Warga ke Petugas: Saya Gak Kapok, Ingat Kalian Jangan Lupa Solat!

Ada Pesan dari Pemimpin Tentara Pembebasan Papua Sebelum Kerusuhan di Wamena, Warga Pendatang Akan Dieksekusi

Ada Pesan dari Pemimpin Tentara Pembebasan Papua Sebelum Kerusuhan di Wamena, Warga Pendatang Akan Dieksekusi
Seorang warga pendatang berjongkok di puing rumahnya yang ludes terbakar di Wamena. (tempo.co)
Senin, 14 Oktober 2019 13:15 WIB
JAKARTA - Dua pekan sebelum kerusuhan di Wamena, Jayawijaya, Papua, pemimpin Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Purom Okiman Wenda megirimkan pesan, meminta warga pendatang meninggalkan Papua. Bila tetap tinggal di Papua, mereka akan dieksekusi.

Dikutip dari tempo.co, pesan tersebut diterima mantan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Bambang Darmono pada 5 September 2019, sedangkan kerusuhan di Wamena yang merenggut lebih 30 jiwa warga pendatang terjadi 23 September.

''Intinya mereka meminta warga pendatang meninggalkan Papua. Jika tidak, mereka akan menembak,'' kata Bambang dalam wawancara khusus dengan Tempo dua pekan lalu.

Jenderal purnawirawan bintang tiga ini berkeyakinan, jika dia mendapat pesan itu, aparat keamanan pun seharusnya tahu dan mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Pada 23 September kerusuhan pecah di Wamena, menewaskan 32 orang dan membuat sekitar 5.000 lainnya terusir dari rumah mereka di ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu.

Ketua lembaga adhoc yang berdiri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengakui pesan yang diterimanya itu bisa saja kabar bohong. Namun dia menilai kabar itu seharusnya tetap disikapi secara profesional, lantaran jelas mengancam jiwa manusia.

Pesan itu dinilainya mengindikasikan kebencian dan ancaman untuk mengusir pendatang dari Bumi Cenderawasih. ''Kalau bukti itu ada tapi pemerintah tidak melakukan antisipasi, itu bentuk pengabaian. Negara tidak hadir di Papua,'' ujarnya.

Para pendatang dari luar Papua menjadi korban dalam kerusuhan 23 September lalu. Kerusuhan itu bermula dari salah paham antara seorang guru ekonomi pengganti, Riris Teodora Panggabean dengan pelajar di Sekolah Menengah Atas PGRI 1 Wamena. Pelajar menuduh guru itu mengucapkan kata rasis.

Kepada polisi, Riris mengaku meminta anak yang tidak mengerjakan tugas berdiri di depan kelas, salah satunya siswa bernama Anton Pahabol. Versi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Pperwakilan Papua serta Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hasegem, nama anak itu adalah Nathan Pahabol. Kepada murid itu, Riris berkata, ''Baca yang keras agar teman lain ikut dengar.''

Kata ''keras'' inilah yang menjadi sumber masalah. Sang murid merasa Riris menyebutnya ''kera''. Tapi hingga selesai pelajaran, Pahabol diam saja. Isu rasisme baru muncul dua hari kemudian. ***

Editor:hasan b
Sumber:tempoa.co
Kategori:Ragam

GoNews Suaminya ke Pasar Saat Rumah dan Warung Rohena Dibakar Massa di Wamena, Bertemu di Rumah Sakit Sudah Tak Bernyawa
GoNews Polri Deteksi Rencana Kerusuhan Lanjutan, 6.000 Personel Disiagakan di Wamena
GoNews Korban Rusuh Wamena, Ketahuan Sembunyi di Rumah Tetangga yang Belum Terbakar, Begini Nasib Abdullah dan Adiknya
GoNews Tiba di Jakarta Setelah Hercules 10 Kali Transit, Siska: Hati Kami Hancur Tinggalkan Wamena, Kita Tak Bersalah Jadi Korban
GoNews Gian Merasa Tidak Percaya Ibu dan Adiknya Meninggal Terbakar di Wamena
GoNews Korban Rusuh Wamena, Erizal Masih Hidup karena Pura-pura Mati, Namun Istri, Anak dan Keponakannya Tewas
GoNews Cerita Ismail, Bawa 2 Anak Pemilik Rumah Makan Padang Sembunyi di Kandang Babi Sebelum Diselamatkan ke Gereja
GoNews Jokowi Imbau Warga Pendatang Tidak Keluar dari Wamena
GoNews Pasca Kerusuhan Renggut 33 Jiwa, Gubernur Papua Jamin Keamanan Seluruh Warga Indonesia di Wamena
GoNews 24 Perantau Sulsel Tewas di Wamena, 10 Jenazah Sudah Dipulangkan ke Makassar
GoNews Polisi Sudah Tetapkan 5 Tersangka Kerusuhan Wamena, Anehnya Sebagian Besar dari Luar
GoNews Mengungsi dari Wamena, 1.300 Perantau Sulsel Sudah di Jayapura, Sebagian Besar Kaum Ibu dan Anak-anak
GoNews Wagub Sumbar Minta Izin Evakuasi Perantau Minang dari Wamena ke Sentani
GoNews Sudah Lebih 3.200 Warga Pendatang Dievakuasi dari Wamena, Diangkut Gunakan 2 Pesawat Hercules
GoNews Sehat Belum Tentu Bugar, Begini Perbedaannya
GoNews Antisipasi COVID – 19, Smartfren Antisipasi Kenaikan Trafik Data
GoNews 789.381 Guru Honorer Tak Bisa Digaji Gunakan Dana BOS, PGRI Minta Mendikbud Revisi Juknis
GoNews Hasil Survei Indo Barometer, Prabowo dan Anies Baswedan Capres Terkuat pada Pilpres 2024
wwwwww