Tsunami di Selat Sunda Tak Terdeteksi Hingga Tak Ada Peringatan Dini, Begini Penjelasan BNPB

Tsunami di Selat Sunda Tak Terdeteksi Hingga Tak Ada Peringatan Dini, Begini Penjelasan BNPB
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (23/12/2018). (grid.id)
Senin, 24 Desember 2018 14:07 WIB
JAKARTA - Pesisir pantai Pandeglang, Serang dan Lampung diterjang gelombang tsunami, Sabtu (22/12/2018) malam. Berbeda dengan tsunami sebelumya, tsunami yang terjadi di Selat Sunda tersebut tidak terdeteksi sehingga tak ada peringatan dini.

Dikutip dari grid.id, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, melalui laman Twitternya @Sutopo_PN, Sutopo, mengatakan, Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunungapi.

Saat ini hanya ada sistem peringatan dini yang dibangkitkan gempa. Menurut Sutopo, sistem ini sudah berjalan baik.

Kurang dari lima menit setelah gempa, BMKG sudah dapat memberitahukan peringatan kepada publik.

''Indonesia harus membangun sistem peringatan dini yang dibangkitkan longsor bawah laut dan erupsi gunungapi,'' ujarnya.

Adanya gempa menyebabkan longsor bawah laut lalu memicu tsunami. Dua di antaranya ialah tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018.

Di Indonesia, ada 127 gunung api. Jumlah tersebut sekitar 13% dari seluruh gunungapi yang ada di dunia.

Beberapa gunungapi ada di laut dan pulau kecil yang dapat menyebabkan tsunami saat erupsi.

Sutopo juga menyoroti bencana lain seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan hingga puting beliung yang juga perlu sistem peringatan dini.

Tidak ada peringatan dini tsunami di Selat Sunda pada 22/12/2018 malam lalu. Ketiadaan sistem peringatan dini inilah yang menyebabkan potensi tsunami tidak terdeteksi sebelumnya. Masyarakat pun tidak punya cukup waktu untuk mengevakuasi diri.

Sutopo juga menambahkan fakta bahwa jaringan buoy tsunami di perairan Indonesia sudah tidak beroperasi sejak 2012.

Penyebabnya banyak, diantaranya: vandalisme, anggaran terbatas hingga kerusakan teknis.

Buoy diperlukan dan semestinya dibangun lagi untuk memperkuat Tsunami Early Warning System.

Dilansir dari Kompas.com, alat pengukur tekanan gelombang di dasar laut mendeteksi secara cepat dan langsung dilaporkan ke buoy yang berada di atas permukaan laut.

Tinggi gelombang yang akan terhempas menuju pesisir secara akurat dapat dilaporkan buoy.

Data aktual itu diterima satelit, alarm peringatan dini sudah bisa diaktifkan.

''Sebelum masuk ke daratan, buoy mencatat dan mengirim data kepada kami (BMKG), lalu kami bisa putuskan dan mempertegas sistem peringatan dini,'' kata Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono.

Dengan demikian menurut Rahmat Triyono, buoy dapat mengetahui langsung secara aktual data di lapangan.

Buoy sangat penting untuk membuat keputusan peringatan dini tsunami yang memberikan waktu bagi warga pesisir untuk menyelamatkan diri.

Meski bisa dilakukan tanpa buoy, tetapi ada konsekuensi besar ketika tidak ada alat ini. Desember 2017 lalu misalnya, guncangan gempa dirasakan warga di pesisir selatan Jawa. Gempa ini kemudian diikuti peringatan dini Tsunami di Pesisir Pangandaran, Jawa Barat yang belum berakhir selama berjam-jam.

Ini terjadi karena tidak ada bouy yang dapat melaporkan secara aktual tinggi permukaan laut.

Peringatan dini tsunami baru berakhir setelah tiga jam, tanpa adanya tsunami.

Ketinggian gelombang saat menghantam daratan pada peringatan dini tsunami sebelum berakhir tidak bisa dipastikan karena tidak ada buoy.

BMKG hanya mengetahui ketinggian hingga cepatnya gelombang laut ke daratan melalui skenario tsunami yang telah diperhitungkan sebelumnya.

Akibatnya, tsunami yang menghantam Kota Palu beberapa waktu lalu membuat kaget banyak pihak karena ukuran kekuatan yang lebih besar dari prediksi.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww