Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
8 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
10 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
11 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
13 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
6
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Metropolitan
9 jam yang lalu
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Home  /  Berita  /  Badminton

Duh Gawat, Batubara Diprediksi Akan Habis 2033, Proyek 35 GW Terancam

Duh Gawat, Batubara Diprediksi Akan Habis 2033, Proyek 35 GW Terancam
Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir. (Legislatif.co/daniel)
Senin, 07 Maret 2016 14:14 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Rencana pembangunan mega proyek kelistrikan 35 ribu Mega Watt (MW) pembangkit listrik untuk tahun 2019, terncam tidak mulus dan bakal mengalami hambatan serius.

Dari hasil survey dari lembaga konsultan internasional PricewaterhouseCoopers, pasokan batubara di Indonesia akan habis pada tahun mulai 2033 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir, Senin (07/03/2016), di Kantor APBI Jakarta.

Menurutnya, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2015-2024, pemerintah memang menetapkan 65% komposisi batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik di tahun 2019. Sehingga kebutuhan batubara akan sangat meningkat, sementara cadangan batubara terus menurun.

"Proyeksi awal mengindikasikan bahwa cadangan batubara kita akan habis di tahun 2033-2036. Hal ini kurang dari 20 tahun umur manfaat PLTU yang termasuk dalam program kelistrikan nasional 35.000 MW yang pada umumnya sekitar 25-30 tahun sejak beroperasi komersial," ungkap Pandu.

Pandu juga mengakui, sejak tahun 2012 perusahaan pertambangan telah menghadapi tantangan yang sangat serius karena stagnasi dalam permintaan batubara, sedangkan terjadi kelebihan pasokan batubara yang disebabkan pelemahan perekonomian.

"Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan margin profitabilitas secara dratis sejak tahun 2012 yang diikuti dengan pengurangan produk," ujarnya.

Dengan demikian, banyak pihak terutama industri batubara yang mengkhawatirkan proyek ini akan mengalami kendala dalam keberlangsungannya. Apalagi dalam kondisi profitabilitas sektor batubara yang tengah jatuh pada titik terendah sepertinsekrang ini. ***

wwwwww