Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
18 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
15 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
15 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
4
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
11 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
5
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
12 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
6
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
19 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Badminton
Jelang Munaslub Partai Golkar

Indra Bambang Utoyo: Golkar Kedepan Harus Dibawah Pemimpin yang Moderen

Indra Bambang Utoyo: Golkar Kedepan Harus Dibawah Pemimpin yang Moderen
Calon Ketua Umum Golkar asal Sumatera, Indra Bambang Utoyo. (Legislatif.co)
Kamis, 24 Maret 2016 17:24 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Politisi Partai Golkar Indra Bambang Utoyo yang juga bakal calon ketua umum partai beringin menyatakan, untuk mengubah kondisi partai yang saat ini dalam kondisi terbelah, sangat dibutuhkan kepemimpinan yang moderen.

"Pemimpin Partai Golkar nanti harus moderen. Harus berani mengubah gaya lama partai yang cenderung mengarah pada politik transaksional," kata Indra kepada Legislatif.co usia konfrensi pers, Kamis (24/3/2016).

Dirinya juga mengakui, tidak bisa menutup mata akan terjadinya transaksi politik di dalam partai. Apalagi berkaitan dengan kontestasi politik. Baik di internal dalam Musyawarah Nasional, pemilihan kepala daerah dan pemilihan kursi legislatif.

"Itu realita (politik transaksional). Jadi pemimpin partai harus moderen dan membawa partainya moderen. Harus ada keberanian membongkar kebiasaan politik uang," katanya. (**/dnl)

wwwwww