Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
17 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
13 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
14 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
5
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
10 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
6
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
10 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Home  /  Berita  /  Badminton
Sekilas Kabar dari Korpri

Sekjen Korpri: Jika Kompak, Korpri Bakal Jadi Agen Perubahan

Sekjen Korpri: Jika Kompak, Korpri Bakal Jadi Agen Perubahan
Sekjen Korpri. (humas)
Sabtu, 10 September 2016 13:57 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Sebagai sebuah entitas, Korpri sebenarnya bisa menjadi agen perubahan bangsa Indonesia yang lebih baik. Syaratnya, anggota Korpri harus kompak, sehingga bisa memiliki pengaruh yang besar pada bangsa ini.

Sekjen Korpri Dr. Ir Bima Haria Wibisana MSIS menilai lebih mudah memulai perubahan dari anggotanya yang 4,5 juta jiwa itu. Sebab, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menjadi anggota Korpri adalah bagian dari masyarakat. Sehingga, memperbaiki kondisi masyarakat yang kini karut marut dengan berbagai masalah kronik seperti korupsi juga akan lebih mudah.

"Rasa-rasanya memulai dari 250 juta masyarakat Indonesia sulit. Mengapa kita tidak mulai dari 4,5 juta warga Korpri," ujar Bima.

Jika tidak dilakukan, maka kondisi pemerintahan pun tidak akan pernah lebih baik. Sebab, ahli sistem informasi itu, menilai korupsi sudah membudaya di Indonesia saat ini.

Anggota Korpri adalah bagian dari 250 juta orang dengan budaya itu. Maka, tidak mungkin mengharapkan kinerja PNS, lebih baik dari kultur masyarakatnya.

"Bagaimana mungkin di sebuah kampung maling, lahir seorang polisi. Tidak mungkin kan?" kata dia saat berbincang dengan Korpri.id di kantornya, Jakarta, Jum'at (9/9/2016)

Dalam pandangan Bima, sifat koruptif sudah menjangkiti seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya di lingkungan PNS. Di kalangan swasta dan masyarakat pun sudah menjadi pemandangan biasa. Untuk indent membeli mobil saja kita harus menyuap dealer, masuk sekolah juga begitu dan banyak lagi. Namun, kita tidak pernah menyatakan korupsi sudah menjadi budaya saat ini.

Syarat untuk menjadi agen perubahan, anggota Korpri harus kompak terlebih dahulu, sehingga terbangun korsa Korpri. Untuk mencapai kekompakan itu, Korpri juga harus memiliki aturan.

"Perlu self regulation. Yang maju harus betul-betul pejuang, jika ada yang berpretensi politik singkirkan saja," begitu Bima menjelaskan.

Dengan begitu, Korpri akan menjadi entitas yang berpengaruh dan memiliki bargaining position. Maka kepala daerah tidak bisa menekan PNS anggota Korpri untuk mengikuti niat jeleknya.

"Jika ada bupati mengancam memecat PNS karena keinginannya tidak dituruti, seluruh PNS Kabupaten itu bisa mengancam mogok," kata Bima.

Bima mengharapkan anggota Korpri untuk saling bergandengan tangan membentuk soliditas seperti itu. Dia mencontohkan ikan salem yang kecil secara individu, tetapi bisa membuat predatornya bingung ketika berkumpul dalam jumlah sangat banyak.

Kekompakan menurut ahli mesin pesawat terbang itu, juga akan membuat PNS dan Korpri membangun barrier dari berbagai macam intervensi. Kalau anggota Korpri kompak, organsasi itu tidak akan mudah diombang-ambing oleh kekuatan yang mengajak pada keburukan.

Untuk, mencapai kekompakan itu, maka anggota Korpri harus tenang kondisi psikologinya. Setelah itu, baru mengarah kepada pembenahan organisasi. Misalnya, struktur Korpri di daerah harus jelas. Pada gilirannya, Korpri bisa mempengaruhi komunitas yang lebih besar lagi yaitu masyarakat Indonesia. (*/dnl)

wwwwww